Catatan Jacobus E. Lato*

Akhirnya, saya berupaya memahami pengakuan Aliran Kepercayaan sebagai sebuah agama resmi sehingga status keagamaan para penganutnya bisa dimasukan dalam dalam KTP.

Awalnya, sederhana; seruan seorang tokoh kepada penganut Aliran Kepercayaan untuk kembali memeluk sebuah agama. Seruannya mungkin lantang seperti diungkapkan media; bisa juga malu-malu karena sang tokoh, kita ingat sering tampil di luar panggung ketika negeri ini membutuhkan pernyataan hitam putih tentang iman yang beradab dan tentu saja manusiawi yang pernah mengguncang negeri ini, akibat masyarakat kita yang masih berpikir secara sederhana dan hitam putih.

Saya pahami sang tokoh; tindakannya mungkin saja, dalam perspektifnya, bisa diklaim sebagai tindak penyelamatan. Toh jauh lebih mulia menyelamatkan orang ketimbang membiarkannya terjerumus.

Seruan itu tentu saja menyelamatkan, tetapi pada pihak lain justru telak tuntas menghapuskan semua pengetahuan, ide, fakta dan rumusan teologis serta semua pengalaman religius tentang Allah yang diyakini oleh kelompok Aliran Kepercayaan tentang Allah, manusia, keselamatan dan nilai-nilai.

Sang tokoh, saya kira jauh lebih menyederhanakan persoalan jika mengajak para pakar untuk meneliti secara mendalam, apakah pengetahuan, ide, fakta, pengalaman religius dan rumusan teologis tentang Allah memang ada dan bisa dipertanggungjawabkan dalam Aliran Kepercayaan tanpa berusaha mempertentangkan dengan agama-agama resmi, karena upaya ini justru hanya mempertentangkan peradaban dan budaya dengan segala aspeknya. Karena bagaimanapun dia bertali-temali dengan persoalan sumber daya manusia, dan mungkin juga kepentingan, dalam hal ini dakwah, misi.

Sudahkah mereka yang menolak mengkajinya, mendiskusikan dan memperdebatkannya secara ilmiah? Tentu, saja sebagai perdebatan, dia tetap memberikan ruang terhadap perbedaan. Karena bagaimanapun, Allah yang mahakuasa sendiri menciptakan perbedaan dan perbedaan itu memperkaya.

Selamat memperkaya.

Tentang Penulis: * Jacobus E. Lato adalah kontributor untuk Lembaga Kajian Middle East Forum (Philadelphia, AS) serta Lembaga Kajian Gatestone Institute (New York, AS).

 

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>