Catatan Edy Suhardono tentang Wabah Kelatahan Nasional.

Jagat wacana publik kita kian koyak oleh wabah kelatahan, di mana validitas dalam berlogika atau memaparkan bukti, pengalaman, atau argumen tidak lagi dilandaskan pada ulah nalar para pemberi pernyataan publik, tetapi pada keanggotaan kelas sosial, generasi, kelompok etnis, jenis kelamin, orientasi seksual, profesi, pekerjaan, atau subkelompok tertentu dari para pemberi pernyataan.

Para pemberi pernyataan dengan entengnya menyimpulkan bahwa sederet karut marut yang kian meruyak –mulai dari persekusi, aksi bela ini bela itu, intoleransi, terorisme, ancaman pecahnya NKRI– semua adalah hanya –dan hanya– akibat. Adapun sebab primernya adalah sosok yang paling sering terekspose di layar publik, apa pun alasannya: Jokowi!

Dalam kelatahan ini, bukti atau argumen yang datang dari lawan pasti disingkirkan tanpa sedikit pun komentar atau pertimbangan, apalagi permenungan, hanya karena –dan hanya karena– argumen lawan dianggap sama sekali tidak layak diperdebatkan, lebih khusus lagi karena bukti dan argumen lawan tak dilambari latar belakang atau etos sebagaimana diacu, atau karena argumen dan bukti itu tidak mewakili diri pemberi pernyataan sebagai bagian atau keanggotaan “in-group” tertentu.

Sebagai misalnya, “Anda benar-benar baru akan memahami kami jika Anda memeluk agama yang kami peluk dan kenyataannya Anda tak seagama dengan kami. Oleh karena itu, bagi kami, alangkah mubazir untuk menjelaskan soal ayat ini kepada Anda,” atau, kalau pernyataan ini dianalogikan ke relasi familial, “Tidak ada seorang pun yang bisa merawat ayah saya kecuali ia seorang perawat. Kau, meski kau saudara kandungku, bukan perawat!”.

Kelatahan bermahkotakan identitas ini masih diperkuat dengan berbagai ritual, bahasa, dan wacana yang menjadi ikon dari keanggotaan identitas kelompok para pemberi pernyataan bergabung. Tak dipungkiri, kelatahan ini terkadang culas, penuh pamrih, sarat ambisi, dan egosentrisitas dari para pemberi pernyataan yang umumnya datang dari kalangan akademisi, politisi, atau pentolan kelompok yang ingin membangun karier (politik?) mereka dengan cara membidani lahirnya kelompok identitas eksklusif, sembari mencampakkan identitas liyan atau kepemimpinan yang berbasis lebih luas.

Kelatahan bermahkotakan identitas ini tak jarang dimeriahkan dengan “ornamen megalomanik”, berupa cemoohan atau penolakan terhadap pihak-pihak yang mungkin saja memiliki prospek untuk memberikankan dukungan konstruktif bahkan potensial menjadi sekutu di masa depan. Alasannya pun sangat dangkal: hanya karena mereka mengenakan mahkota identitas yang berlainan dengan dirinya.

Kelatahan identitas yang mewabah ini tampak sulit dipisahkan dari pandangan hidup eksklusif yang dilengkapi kultus “melakukan segala sesuatu demi diri sendiri” –suatu pendirian yang justru dapat memarjinalisasikan diri sendiri sebagai pihak yang terasing di negeri sendiri.

“Peliyanan” (othering), yang didasarkan pada sikap stereotipikal, xenophobic, rasis, atau prasangka bernada “Mereka Tidak Seperti Kita” menjadi penjelasan penting atas bakal terjadinya perusakan, pembusukan, dan diskriminasi ekstrim, di mana fakta, argumen, pengalaman, atau keberatan yang paling obyektif sekali pun cenderung diabaikan, semisal, “Pak Presiden! Papua butuh pembangunan manusia, bukan infrastruktur. Sebab jika sebatas pembangunan fisik, maka yang diuntungkan hanyalah investor asing yang masuk ke Papua”. Secara tersirat, pernyataan Ketua Komite Nasional Papua Barat, Victor Yeimo, memuat pesan “Anda tak seperti kami, dan mereka tak sama seperti yang Anda pikirkan”.

Terkait pelaku bom bunuh diri, para pemberi pernyataan dengan tanpa beban mengatakan: “Anda sedang beranda-andai seolah kehidupan di neraka sana begitu mengerikan, sehingga Anda dengan mudah berkesimpulan bahwa para teroris seharusnya berpikir seribu kali sebelum mereka meledakkan diri dengan rompi bunuh diri. Ada hal penting yang Anda tak paham, yaitu bahwa mereka sungguh berbeda dari kita. Mereka sama sekali tidak memikirkan kehidupan dan kematian sebagaimana Anda pikirkan.”

Hemat saya, pembaca jelas menangkap apa yang saya maksud dengan “wabah kelatahan”. Jika anggapannya adalah “Mereka Tidak Seperti Kita,” atau “Anda Tidak Berpikir Seperti Kami”, maka yang paling mungkin terjadi adalah “eksploitasi brutal dan perampokan atas kesadaran”. Suka atau tidak, ini adalah sebentuk “dehumanization“, di mana marjinalisasi atas diri sendiri gilirannya merupakan pengasingan diri dari kesadaran sendiri.

Tiba di titik ini, bagi saya sulit untuk membedakan antara penalaran para pelaku bom bunuh diri dan penalaran para pemberi pernyataan yang telah terperangkap ke dalam wabah kelatahan.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

 

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>