Bu Rubby meranjak dari tempat duduk, membuka pintu, keluar dari ruang konsultasi, “ “Tetty, ke sini kamu! Katanya mau ketemu Om Edy? Tadi ‘khan sudah janji, sambil menunggu mama di dalam sama Om Eddy, kamu mau bikin PR. Koq malah main?” kata-katanya yang menurut kesanku cukup kasar  mengucur tanpa selaan dari Tetty, anak sulungnya yang berusia 9 tahun.

“Ya,  Ma. Tapi aku takut. ‘Ntar Om Eddy juga suka marah-marah kayak Pak Guru di sekolah,” terdengar jawaban Tetty agak terbata-bata.

Begitu “digelandang” ibunya masuk ke ruang konsultasi, Tetty tetap berdiri satu langkah di depan pintu, sementara ibunya sudah duduk di depanku.

“Ayo, ke sini! Kasih tabik, dong, sama Om Eddy. Mana tanganmu? Kasihkan ke Om,” Bu Rubby memerintahkan.

Aku menatapnya, mengajaknya senyum sembari mengangkat mata untuk mengesankan betapa aku menyambut hangat dia. Wajahnya sedikit tegang, namun beberapa detik kemudian mulai mencair, dan tiba-tiba tersunggunglah senyum lebar di wajahnya. Ia berjalan agak ragu menuju ke arahku dan mulai menjulurkan tangan kirinya.

“Tetty! Kenapa pakai tangan jelekmu? Pakai tangan kanan, dong!” teriak Bu Rubby sambil menoleh ke arahku, “Anak ini kidal, Pak,” Bu Rubby berbisik.

“Biar saja. Pakai tanganmu yang itu juga baik, koq. Nama Om, Edy Suhardono. Nama lengkap kamu siapa, dik?” tanyaku sambil tangan kiriku menggenggam tangan kirinya.

Aku agak terkejut. Ia secara reflek mau melepaskan tangannya dari genggaman tanganku. Telapak tangannya bukan hanya lembab, tetapi basah keringat dan sangat dingin.

“Namaku Tetty Saraswati, Om,” katanya lirih.

Ia mencoba tersenyum meski dengan wajah yang tegang. Tangan kirinya kupegang, telapaknya kugosok-gosok lembut dengan telapak tanganku. Matanya nampak berbinar, senang. Beberapa detik ia melihat ke arah ibunya, kemudian menatapku. Terlihat ada kesedihan di sorot matanya.

“Baik, Tetty, kamu boleh kembali lagi ke tempat main Om yang di depan tadi sambil mengerjakan PR-mu,” kataku sambil memijit-pijit pundaknya. Ia nampak nyaman dan mulai melangkah ke luar ruangan sambil mengucapkan kata “terima kasih”.

“Bagaimana anak ini menurut Bapak? Ia memang kidal, Pak. Buat saya bukan itu masalah yang membuat saya jengkel, tapi ulahnya. Ia suka berbohong, bahkan apa yang dia katakan hampir selalu bukan yang sebenarnya. Seminggu lalu, saya menemukan di kamarnya, pakaiannya dekil bercampur lumpur, dan ia sembunyikan di kolong tempat tidurnya. Keruan saja, saya marahi dia habis-habisan di depan kedua adiknya, biar sekalian jadi pelajaran buat mereka. Dia tidak mau mengaku, keluyuran kemana saja sepulang dari sekolah. Apakah memang anak kidal cenderung nakal, suka berbohong, tidak teratur, dan tak mau menuruti kata orangtuanya, Pak?”

Apa yang diungkapkan Bu Rubby adalah pola umum di kalangan orangtua. Mereka menjadi ahli dalam hal “menangkap basah” anak-anak ketika berbuat jahat. Setelah melewati sesi konsultasi semacam ini, kebanyakan mereka akhirnya mengaku, mereka tidak mungkin melihat kapan anak-anak berperilaku baik; padahal, mereka mengharuskan agar anak-anak selalu berperilaku baik.

Orangtua bukan dilarang mengritik atau sebaliknya dianjurkan selalu memuji anak-anak; tetapi hendaklah dipahami, pujian dan kritik dapat memiliki efek ganda pada anak-anak. Jika digunakan dengan benar, baik pujian maupun kritik akan memiliki efek yang tajam untuk memperbaiki perilaku anak-anak. Sebaliknya, jika digunakan secara tidak benar, pujian dan kritik akan berbahaya bagi perkembangan mereka.

Baik “nakal” maupun menjadi “anak baik” sebenarnya bukan perilaku. Atribut semacam ini tidak menjamin kebenaran evaluatif atas apa yang anak lakukan sehingga ibunya menjadi jengkel, atau apa yang anak lakukan sehingga ayahnya menganggap dia sebagai anak baik. Artinya, pujian maupun kritik harus berbasis pada perilaku yang menarik perhatian bagi anak. Bahwa anak-anak ingin menyenangkan orang tua mereka itu hal normal. Justru karena mereka masih kanak-kanak, mereka sangat peduli pada bagaimana orangtua menilai dan merasakan apa yang mereka kerjakan. Mereka membutuhkan umpan balik terkait perbedaan antar-perilaku yang mempengaruhi perasaan mereka.

Ketika anak-anak belajar bahwa perilaku tertentu berhasil meraup persetujuan orangtua, mereka cenderung mengulang, bahkan dengan intensitas lebih kuat dan kualitas lebih baik. Ketika mereka belajar bahwa perilaku tertentu membuat orangtua setuju atau marah, mereka akan mengubah perilaku tersebut. Dan, inilah rahasia, hanya sedikit orangtua yang tahu, anak-anak paling bahagia ketika mereka berhasil membuat orangtua mereka bahagia!

Karena itu, yang lebih diperlukan ialah orangtua harus memberitahu anak-anak ketika perilaku mereka membuat orangtua merasa senang, bukan hanya ketika perilaku mereka membuat orangtua marah atau sedih. Untuk mengkritik, orangtua perlu memastikan bahwa ia mampu memberitahu anak-anak apa yang harus mereka lakukan, bukan hanya apa yang tidak boleh mereka lakukan. Ini menjadi isyarat atau tengara dari perilaku yang benar, yang kemudian dapat diperkuat dengan pujian. Dengan meningkatnya perilaku yang diinginkan, perilaku yang tidak diinginkan secara otomatis menghilang.

Perilaku tidak berubah sekaligus sehingga orang tua harus memperhatikan, sejauh mana perbaikan yang terjadi berkat pujian. Dalam kasus Tetty, Bu Rubby harus memastikan apakah Tetty paham bahwa menaruh pakaian kotor di keranjang cucian lebih baik daripada di kolong tempat tidur? Ia harus memuji Tetty ketika berhasil menaruh pakaian kotornya di keranjang cucian. Setelah perilaku yang diinginkan terjadi, kalau perlu ia harus memberikan pujian tambahan.

Sosok Tetty dengan telapak tangannya yang lembab, basah keringat, dan sangat dingin tidak berhubungan dengan tangannya yang kidal, tetapi menunjukkan bahwa ia korban dari perlakuan orangtuanya yang tidak cermat menemukan perilaku yang dapat menarik perhatian anak dan juga orangua yang cenderung melakukan penggebyah-uyahan berlebihan atas perilaku anak, sehingga sulit menemukan perilaku yang baik, sementara mengharuskan agar anak-anak berperilaku baik. (ES)

sumber foto: vemale.com

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di laman MayaAksara.com

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar