Agar demokrasi berfungsi efektif, warga perlu akrab dengan isu dan peristiwa terkini. Sayang, kebanyakan orang tidak memenuhi tingkat dasar literasi ini. Keterasingan dari peristiwa kekinian bukan akibat pusaran propaganda politik yang menyamar sebagai berita headline. Juga bukan akibat pandangan yang tidak lengkap secara faktual sebagaimana kita sering temui di media sosial.

Persoalan yang mengemuka ini menyangkut eksistensi Mayoritas Diam (MD), yakni warga yang karena tidak tahu hal-hal penting yang saling mengait dan diperlukan guna menavigasi kehidupan sehari-hari dan masa depan, atau warga yang sebenarnya tahu tapi menolak berpendapat.

Jadi MD bukanlah lahir sesudah, tetapi lahir sebelum kemunculan media sosial. Media sosial lebih berperan menempatkan kediaman ini di layar monitor dan pada tingkat yang sekadar dibayangkan. Terkait upaya berpartisipasi dalam dialog yang lebih bermakna, sulit dibantah bahwa media sosial menguatkan kediaman mayoritas menjadi makin menggumpal bahkan pada titik tertentu menciptakan kluster baru dalam kekosongan partisipasi.

Sebagai ganti dari kediaman ini, terjadi modus penghindaran yang disengaja atas berita substantif aktual, baik melalui meme, daftar klik konyol, atau gosip selebriti. MD hadir dalam dua perwajahan: MDTMT (Mayoritas Diam yang Tak Mau Tahu) dan MDTMM (Mayoritas Diam yang Tak Mau Mengatakan). Yang pertama cenderung menolak dialog kewarganegaraan karena alasan kurangnya fakta, sedang yang kedua menolak dialog kewarganegaraan karena kurangnya keberanian. Keduanya sama-sama membangun kurangnya partisipasi yang gilirannya merugikan demokrasi.

Mayoritas Diam yang Tak Mau Tahu

MDTMT adalah mereka yang mengalami frustasi, terutama karena terbatas dalam hak untuk menggunakan hak-hak mereka umumnya sehingga sangat lemah dan tidak berdaya. MDTMT cenderung memilih membenci, mencurigai, dan menghujat dunia sekitar. Mereka terbiasa menenggelamkan diri ke dalam aktivitas kerja guna memenuhi kebutuhan dasar (subsisten). Meski mereka memakai teknologi mutakhir yang memungkinkan –jika mereka mau– menyampaikan berita bermakna secara langsung tanpa penundaan, seperti: memutakhirkan sensasi mereka tentang YouTube, statistik sepak bola fantasi atau film superhero yang belum tersebar ke publik.

Kekhususannya, MDTMT tidak melengkapi berita aktual sesuai minat dan hobi mereka. Media sosial bagi mereka sekadar membantu mengaktifkan pengasingan atas hasil pendidikan yang mereka capai sementara, khusus bagi teman-teman di media sosial, mereka memberikan prioritas utama. Sebagai MD, peran mereka sangat sederhana: “Anda tidak dapat berbagi apa yang Anda tidak tahu”.

Mayoritas Diam yang Tak Mau Mengatakan

Adapun MDTMM memiliki informasi dan akses informasi terkait SIAPA, APA, DI MANA dan MENGAPA, tetapi tidak mau mengungkapkan. Mereka mungkin saja tahu cerita para mahasiswa yang menghancurkan prospek karier masa depan karena mengunggah foto yang keliru di Instagram, atau para profesional mapan yang kehilangan pekerjaan hanya gara-gara komentar online mereka yang kontroversial. Mereka seolah mencat putih dinding Facebook mereka dan berperilaku senetral mungkin netral secara politis dan menghindari risiko sekecil mungkin terkait aktivitas di media sosial.

Akibatnya, MDTMM menjadi “cyber-safer” yang menghindari kesalahan dan menyembunyikan pemikiran sebenarnya , baik tentang politik, kejadian terkini, maupun perspektif yang melatari foto dangkal atau pembaruan status tentang “apa yang saya lakukan sekarang”.

MDTMM  juga sangat menghidupi sikap rasis konyol, namun pada saat sama menjadi pendukung dari atas penghindaran posisi sayap kiri dan sayap kanan ekstrim. Penolakan mereka melalui penyeimbangan ekstremisme sayap ini menjadi alasan utama untuk mengamankan diri dari sebutan paranoid.

Penguatan Dialog Warga

MD memang tidak berbahaya, tetapi penghindaran mereka untuk partisipasi ini lambat namun pasti meningkatkan kelemahan dialog warga. Alih-alih memberikan dukungan dengan fakta dan akal sehat, MDTMM lebih menanggapi berbagai bias dan hoax dengan kepasifan, sehingga berakibat kekosongan dukungan warga masyarakat dalam informasi yang memadai.

Dalam jangka pendek, mereka secara pribadi sangat profesional dan super hati-hati untuk bersikap cuci-tangan dari semua isu dan peristiwa terkini, terlebih yang bercorak politis, sehingga secara tak langsung mereka justru menegaskan dukungan kepada para ekstremis, para intoleran, para pakar vokal sekaligus meruyaknya teori konspirasi.

Dalam konteks media sosial, “silence is not golden“, keheningan bukan emas. Dengan memahami kerangka ini, jika tak puas dan berkeberatan, MD tidak harus mengorbankan pengaruh mereka hanya demi menghindari dialog yang berskala besar.

Sulit bagi mereka yang telah aktif untuk melewatkan media sosial. Keaktifan mereka berpengaruh terhadap dialog publik, sehingga dari merekalah praktik dan kebijakan publik kian meningkat. Namun juga sulit menyanggah bahwa dari MD tersembunyi kekuatan gajah tidur untuk menenggelamkan berbagai omong kosong tanpa akal sehat yang berseliweran di media sosial.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

 

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>