Catatan Jacobus E. Lato*

Demonstrasi tidak mudah dipahami; dia bisa semacam biaya politik yang harus diterima ketika perolehan kekuasaan bisa dipaksakan pemberiannya. Bisa juga dia sebentuk pemaksaan kehendak sehingga yang kuat tampil jaya dan pada gilirannya mendikte cara berpikir kita; termasuk mendikte agar kita meyakini bahwa mereka baik, merekalah cinta yang memberikan Anda kenyamanan bergerak ketika hidup seolah menghadapkan kita pada tembok-tembok batas yang memaksa Anda untuk merasa kalah. Bisa juga dia adalah ekspresi bahwa ketidakberdayaan bisa dipaksakan lewat kelompok yang besar, massal dan arena itu tidak terkendali.

Dan massa adalah kekuatan. Jika Anda tak mampu berkelahi, undanglah sahabat-sahabat Anda bersama. Kepengecutan nyaris tidak hadir lagi di sana. Karena memang massa bisa membuat tanggung jawab terbagi, tetapi juga hilang sehingga mengubah manusia menjadi biadab. Dan kita pun tahu, kebiadaban menjadikan manusia segalanya. Bahkan menjadi tuan dan Tuhan untuk kebenarannya sendiri.

Ahok tidak menjadi tuan bagi kebenarannya sendiri. Sebagai pejabat publik, dia membasiskan diri pada konstitusi. Dalam kesadaran konstitusional ini, dia menemukan pijakan relijiusitasnya, kesadaran dan kepekaannya terhadap relasinya dengan Allah junjungannya. Kesadaran ini rupanya membuat dia sempurna melayani namun juga abai. Bahwa massa bisa tidak bertanggung jawab; bahwa massa bisa biadab. Bahwa massa bisa menjadikan dirinya tuan bahkan “Tuhan” sehingga bisa menjadi sandungan baginya dan bagi siapa yang berseberangan.

Rupanya Ahok tidak ambil pusing. Dia membuat relijiusitasnya menjadi cermin; bukan dirinya sendiri tetapi juga Tuhan junjungannya.

Akankah kita berani berisiko seperti dia?

Entahlah!

Yang pasti Ahok membuktikan bahwa manusia dan Tuhan mungkin terpilah; ada manusia baik pada satu pihak dan manusia jahat di pihak lain.

Adakah yang berani memilah ada Tuhan baik dan ada Tuhan jahat?

Semoga kita tidak jadi penjahat.

Tentang Penulis: * Jacobus E. Lato adalah kontributor untuk Lembaga Kajian Middle East Forum (Philadelphia, AS) serta Lembaga Kajian Gatestone Institute (New York, AS).

 

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>