Artikel ini diperiksa dan disunting ulang dari artikel Edy Suhardono yang pertama kali dipublikasikan di Facebook Edy Suhardono, “DIMULAI DARI BOHONG PADA DIRI SENDIRI”, 5 Maret 2019.

Bagaimana perasaan Anda ketika menyaksikan pembohong yang tersungkur karena kebohongannya?

Saya kira, kita paham bahwa berbohong adalah hal buruk yang seharusnya tidak kita lakukan. Tetapi bagaimana dengan pembohong patologis, pembohong yang tidak bisa berhenti menyebarkan informasi yang salah tentang diri mereka sendiri dan orang lain?

Sengaja saya tekankan di sini, isi kebohongan dimulai dari kebohongan tentang diri sendiri, sehingga hampir tak mungkin isi kebohongan tentang orang lain terjadi tanpa terlebih dulu isi kebohongan tentang diri sendiri.

Sulit mengungkap alasan psikologis mengapa orang berbohong. Sebagai acuan, pada Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental dalam edisi ketiga tertera, berbohong patologis adalah gangguan dalam dirinya sendiri yang terkait dengan gejala gangguan kepribadian seperti psikopati dan narsisme.

Menurut psikiater Judith Orloff, penulis “The Empath’s Survival Guide”, kebohongan berasal dari cacat neurologis yang menentukan sejauh mana orang memiliki belas kasih dan empati. Baik narsisis, sosiopat, maupun psikopat memiliki defisiensi empati, yang mengakibatkan mereka tidak merasakan empati seperti yang orang lain inginkan. Bagi mereka, kebenaran bisa dianulir bahkan tak harus dipedulikan, sama halnya dengan kebohongan.

Rendahnya tingkat empati menunjuk pada kaburnya nurani, sebuah konsep yang sulit untuk dipahami. Jika berbohong tidak menyakiti diri pembohongnya, maka dengan cara yang sama pun diperlakukan tak akan menyakiti orang lain yang mereka bohongi.

Menurut Orloff, jika kita terjebak ke dalam relasi dengan pembohong patologis dan tidak bisa mengerti mengapa mereka tega berbohong, hal ini karena  kita berusaha menyesuaikan diri dengan mereka menggunakan standar tentang empati. Dan jelas, ini tidak cocok. Mereka mungkin bahkan tidak menyadari bahwa mereka berbohong sepanjang waktu, karena tidak menyadari bahkan mengklaim diri bahwa mereka mengatakan yang sebenarnya.

Kehadiran pembohong sangat berbahaya bagi orang yang sangat sensitif dan empatik, karena orang-orang yang sensitif dan empatik akan ditarik menjadi narsisis dan gilirannya menjadi pembohong.  Mengapa? Karena ketika mereka menjadi korban kebohongan, mereka pun mencoba dan mencari tahu, dan jika gagal, lantas menyalahkan diri sendiri.

Dan setelah orang-orang polos ini memulai kebohongan, mereka akan menjadi korban pembohong dengan melakukan kebohongan berikutnya dengan dalih bahwa mereka tidak berbohong dan “hanya meneruskan kebohongan” yang telah menjadikan mereka sebagai korban.

Meski mereka telah diberitahukan berulang-ulang bahwa versi realitas yang mereka peluk tidak benar atau palsu, mereka makin percaya pada “kebenaran menyesatkan” yang disampaikan oleh pelaku yang telah menjadikan mereka korban kebohongan.

“Padahal”, menurut Orloff, “Relasi yang hanya terjadi jika Anda bisa mengatakan yang sebenarnya satu sama lain, dan saling percaya, dan menjadi otentik. Akan halnya dengan para pembohong patologis, Anda sama sekali tidak bisa mempercayai mereka.”

Kita tidak bisa mendasarkan hidup kita di tengah pusaran para pembohong. Membiarkan diri berada dalam pusaran mereka, kita akan mengalami defisit moral, dan tidak akan ada pertanggungjawaban. Seseorang yang pembohong patologis tidak akan mengatakan permintaan minta maaf karena telah melakukannya. Sebaliknya, mereka akan mengatakan bahwa itu salah kita karena telah mempercayai.

Satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari cengkeraman pembohong patologis adalah mengatakan “Tidak” dan selanjutnya tidak meneruskan kekorbanan kita pada orang lain. Kebohongan dimulai dari meragukan diri sendiri, sehingga kebohongan bisa makin meningkat secara halus. Ini mungkin dimulai dengan kebohongan putih kecil, dan beberapa bulan kemudian kehidupan korban menjadi berantakan karena jaring cerita yang sudah terjalin.

Kita dapat menangkap bahwa seseorang berbohong ketika ia coba-coba membuat alasan tentang kebohongannya. Kebohongan adalah kebohongan. Titik. Dan jika kita meneruskannya kepada orang itu dan orang lain mengatakan mengatakan bahwa itu salah kita, kita perlu menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat salah terjadi.

Pembohong kompulsif belum tentu orang jahat, tetapi justru orang yang terlalu impulsif untuk mengatakan yang sebenarnya. Skala impulsif-reflektif sudah tertanam dalam gen kita, dan sangat sulit bagi kita yang sangat impulsif untuk meluangkan waktu memikirkan semuanya, sama sulitnya dengan tantangan bagi orang reflektif untuk melompat ke sesuatu yang belum direnungkan atau diendapkan.

Jika kebetulan kita menyadari sebagai orang yang impulsif, sangat sulit bagi kita untuk menghentikan kebiasaan itu, karena kita memiliki perasaan mengerikan di dalam diri bahwa kita harus menyelesaikan masalah sekarang juga.

Ketika sebuah informasi sampai di telinga kita, kita mungkin cenderung secara impulsif segera mengatakannya kepada orang lain. Dalam kasus ini tidak berarti kita harus berbohong, meski kondisi ini sedikit lebih sulit untuk membuat kita berhenti berbohong.

Benar bahwa kebohongan patologis dan narsisme tidak identik, meski kadang-kadang keduanya berjalan beriringan. Pembohong kompulsif mungkin tidak memiliki kapasitas untuk menghentikan diri mereka sendiri menyemburkan informasi yang masuk ke dalam telinganya, sebab kebohongan tidak selalu berasal dari orang yang berperangai buruk.

Link: https://www.youtube.com/watch?v=rSIBqApZ0L0

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>