Artikel ini diperiksa dan disunting ulang dari artikel Edy Suhardono yang pertama kali dipublikasikan di Facebook Edy Suhardono, “EMPATI DAN SOSIOPATI”, 10 Mei 2017.

Hujan air mata dan sorak sorai “merayakan kebenaran” sepanjang hari Selasa, 9 Mei 2017 oleh sekelompok manusia kepada sesamanya merupakan ciri utama yang membedakan antara mereka yang sehat kejiwaan dan yang mengidap sosiopati –suatu kondisi psikologik yang menghalangi kapasitas seseorang untuk berempati dan menunjukkan penyesalan.

Ada beberapa kemungkinan penyebab sosiopati yang saling terkait, termasuk faktor budaya, lingkungan, dan genetik. Terlepas dari apakah sosiopat disebabkan oleh faktor genetik, faktor lingkungan, atau kombinasi tertentu; sosiopat seharusnya tidak dianggap bertanggung jawab atas sosiopati mereka karena kondisi sosiopat bukanlah satu yang mereka pilih, tetapi merupakan suatu kondisi yang terberi, baik karena warisan genetik maupun pengalaman hidup.

Sosiopat memiliki kapasitas melakukan kejahatan dan kekerasan, utamanya dalam bentuk kekerasan dan serangan yang menghancurkan, menyakiti, bahkan mematikan; yang biasanya ditanggapi oleh korban dengan rasa ketakutan, kemarahan, sakit hati, dan ketidakmampuan untuk memaafkan tindakan mereka.

Hal yang kita sering sulit memahami ialah bahwa meskipun sosiopat sulit berempati, mereka memiliki kapasitas pemahaman kognitif tentang apa yang dianggap benar dan salah oleh budaya tempat mereka tinggal. Benar bahwa kurangnya empati dapat melemahkan mereka untuk membuat keputusan berdasarkan konsekuensi atau implikasi dari tindakan mereka sendiri. Tetapi masih masuk akal untuk mengharapkan para sosiopat memiliki pengetahuan kognitif tentang benar dan salah, mematuhi peraturan, bahkan melayani dan mengendalikan dorongan mereka.

Terlepas dari bahaya sosiopat yang secara kolektif tampak pada perwajahan masyarakat, sosiopat tidak dapat dibenci justru karena secara kolektif mereka memang pembenci. Membenci pembenci hanya akan menguatkan kebencian ibarat “botol mendapatkan tutupnya”. Mengembangkan simpati terhadap sosiopat dan mempertimbangkan melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membantu menyembuhkan kondisi sosiopati adalah jalan yang lebih baik untuk membuat kita keluar dari “kehidupan masyarakat dan bangsa yang tidak cerdas”.

Mengapa kita perlu berempati dan bersimpati bagi sosiopat? Tidak ada di antara kita yang yang memilih menjadi sosiopat. Warisan genetik, lingkungan serta keluarga dan budaya seseorang dimana mereka dilahirkan menjadi predisposisi dan membentuk mereka di luar kendali mereka sendiri. Artinya, betapa malang mewarisi sosiopati.

Sosiopat kehilangan pengalaman yang paling menggembirakan untuk menjadi manusia: cinta, empati, dan hubungan emosi. Rekayasa tertentu masih memungkinkan para sosiopat memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui pengobatan, pelayanan militer, dan bidang pelayanan lainnya.

Kita perlu membangun kepercayaan bahwa lebih baik tetap bersikap terbuka terhadap kemungkinan dimana para sosiopat dapat memiliki kemampuan untuk mengembangkan keterikatan, penyesalan, rasa bersalah, dan empati.

Gagasan ini saya promosikan berdasarkan penelitian terbaru bidang neurobiologi interpersonal yang menunjukkan bahwa otak orang dewasa dapat mengembangkan koneksi saraf baru dan bahkan dapat menumbuhkan neuron baru. Ini sebuah temuan yang menawarkan harapan baru. Jika sosiopati adalah kondisi yang bisa diobati, bisa dipulihkan atau sembuhkan, maka jumlah kerugian kolektif yang melintas dari manusia ke manusia dan bangsa ke negara bisa kita kurangi.

Dengan perawatan yang efektif untuk sosiopati, jutaan anak dengan orang tua sosiopat mungkin memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterikatan yang sehat, sementara ruyakan jumlah orang dengan kondisi sosiopati sebagai hasil pengalaman masa kecil dapat dicegah.

Ironisnya, banyak dari kita yang mengalami ketakutan menghadapi sosiopat, atau merasa telah disakiti oleh mereka, secara tidak sengaja justru “mencuri dari buku pedoman mereka” dengan cara membalas dan melihat sosiopat tanpa simpati dan empati.

Dengan pemahaman ini saya mendorong untuk bergabung dan membangun harapan bahwa suatu saat kelompok pro-sosial akan bergabung bersama untuk menyumbangkan sumber daya keuangan yang dibutuhkan untuk pengobatan sosiopati dan melakukan perjalanan evolusi budaya manusia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, masyarakat, keluarga dan perorangan.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

 

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>