Artikel ini diperiksa dan disunting ulang dari artikel Edy Suhardono yang pertama kali dipublikasikan di Facebook Edy Suhardono, “HOAX DAN BUDAYA MASSA”, 5 Maret 2019.

Salah satu pendekatan guna memahami hoax, saya mengacu ke pemikiran Søren Aabye Kierkegaard (SAK) tentang budaya massa. Filsuf dan teolog abad ke-19 ini mengklaim diri sebagai seseorang yang religius dan anti-filsuf. SAK adalah kritikus atas dialektika Hegel.

Menurut SAK, budaya intelektual dan masyarakat teknokratik yang diangung-agungkan di jamannya menyimpan konsekuensi-konsekuensi negatif. Salah satu konsekuensi negatif yang menjadi pusat perhatian SAK adalah kemampuan abstraksi, di mana apa yang tidak sesuai dengan konsensus umum berarti tidak objektif dan tidak benar.

Pada titik ini, menurut SAK, masyarakat jatuh dalam budaya massa yang kemudian dipengaruhi atau dipupuk oleh berkembangnya media massa yang dengan mudah, murah, dan efektif membentuk opini-opini publik. Figur publik menjadi sesuatu yang kabur sekaligus garang dan menjadi kekuatan yang paling berbahaya.

Publik bukanlah suatu generasi, bangsa, paguyuban atau pun masyarakat karena dalam publik tidak ada seorang pun yang mempunyai komitmen sungguhan. Dalam masyarakat modern, demikian SAK, wajah publik yang paling konkret itu adalah pers. Yang terpenting bagi individu adalah berusaha supaya pola pikir dan perilakunya sesuai dengan tuntutan umum.

Hidup dimaknai rangkaian peristiwa yang berserakan tanpa nilai dan makna. Padahal, seharusnya hidup adalah sebuah perjalanan nilai, rangkaian keputusan, dan komitmen pribadi pada nilai-nilai yang semakin tinggi.

Bagi SAK, asosiasi yang terdiri dari individu-individu yang lemah dan tak berkepribadian adalah menjijikkan bagai perkawinan anak di bawah usia. Kekaguman pada sosok tanpa passion, yang sering dipahlawankan sebagai sosok yang canggih, meski dalam bidang-bidang yang sebenarnya tidak penting.

Semua orang memiliki hak yang sama. Pers memungkinkan massa menjadi konsep abstrak, menjadi publik yang berisikan individu-individu yang tidak riil dan tak bisa diorganisasikan. Namun ironisnya, publik memiliki kekuatan pengaruh yang sangat mutlak. Individu lantas hidup tak berdasarkan eksistensi yang lebih bertanggungjawab dan larut dalam budaya massa.

Menurut SAK, untuk mencapai subjek yang otentik, hal itu tidak ditempuh hanya dengan menguasai realitas secara rasional dan konseptual, juga tak sekedar refleksi yang intelektualistik; tapi harus melalui pilihan, keputusan, dan komitmen yang dilandasi oleh passion, antusiasme, rasa, dan kehendak bebas.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>