Yang kian tanpa ‘tedeng aling-aling’ dipraktikkan di kalangan politisi adalah penghargaan yang setinggi-tingginya pada citra kegagah-beranian yang ditumpukan pada ketakutan konstituen. Demi eletabilitas para kandidat, melalui para botoh dan tim sukses, melazimkan politik ketakutan terhadap teroris, imigran, orang-orang yang berbeda agama, kaum gay, teknologi IT, proksi asing bahkan jin di hotel-hotel.

Tak pelak, di dalam dunia politik praktis mutakhir, ketakutan diperlakukan sebagai salah satu emosi paling kuat yang dapat dimanipulasi para kandidat, terutama karena ketakutan memiliki dasar faktual dalam kenyataan. Seorang kandidat bisa mengangkat fakta seorang jihadis yang bertekad melakukan bom bunuh diri, atau seorang nelayan miskin yang dipersekusi, atau seorang petani yang gagal menjual bawang hasil panennya gegara negara mengimpor bawang.

Kandidat mengeksploitasi ketakutan pemilih berbekalkan pemahaman tentang kondisi mereka agar benar-benar dapat memunculkan efek ‘mati takut’. Kandidat berusaha memastikan –bila perlu menyewa tenaga profesional– tentang apa yang pemilih sedang alami, pada tingkatan kompetensi seperti apa ketika mereka mengalami, pada tingkatan intelektualitas mana; sehingga dari sini dapat ditargetkan ke tingkat amarah tertentu untuk diformat ke dalam gerakan masif tertentu.

***

Ketika manipulasi semacam itu dikerjakan dalam tindakan politik praktis, hakikat politik pun merosot dan mengalami peyorasi menjadi sulit dibedakan dengan kejahatan murni umumnya, terutama manakala politik yang dipraktikkan adalah perekayasaan emosi yang dapat dimanipulasikan sedemikian rupa pada para pemilih ke dalam kebencian, harapan, ketakutan, dan kecemasan tertentu.

Penggunaan ketakutan secara lihai dapat menjadi jurus tak tertandingi dalam mengarahkan antusiasme pemilih terhadap kandidat tertentu setelah berpaling dari yang kandidat lain. Kualifikasi “lihai” di sini menegaskan pemahaman tentang perlu dioperasikannya siasat yang lebih canggih tentang bagaimana memanipulasi rasa takut. Dengan memanipulasikan rasa takut, para kandidat memaksa pemilih merespons keinginan mereka.

Bahkan dengan memainkan rasa takut dan kecemasan kandidat memengaruhi pandangan pemilih tentang isu-isu yang tampaknya tidak terkait menjadi seolah berkait ketika dipicu ketakutan. Di sini rasa takut mereka pakai secara paling efektif sebagai pisau bedah. Gilirannya, mereka mengupayakan bagaimana kekuatan rasa takut ini dapat dikuadratkan bersama tingkat kebenaran informasi politis yang diyakinkan dengan penegasan “katanya”. Kandidat menggunakan cara ini untuk meraup kemenangan melalui jumlah perolehan suara lebih banyak.

***

Jika yang diresonansikan secara masif itu tak lain dan bukan adalah ketakutan, maka menjadi sia-sialah bagi Jokowi-Ma’rif, caleg lain atau siapa pun, untuk hanya menentang secara habis-habisan penggunaan rasa takut oleh rival mereka. Jika ini saja yang mereka kerjakan, ini sama saja dengan meratapi ketidakmampuan manusia untuk menandingi lolongan nada tinggi yang hanya bisa dilakukan anjing-anjing. Sedemikian dahsyat efektivitas manipulasi ketakutan atas para pemilih, sehingga seorang ahli teori politik abad ke-18, Edmund Burke, menyampaikan, “Tidak ada kegairahan yang lebih efektif yang dapat merampas pikiran dari keterkaitan antara tindakan dan penalarannya, kecuali rasa takut.”

Begitu pasangan Prabowo-Sandiago mengingatkan pemilih dengan mengangkat ketakutan akan satu masalah –Indonesia punah, Indonesia sedang diserbu tenaga kerja asing, dan rekaan fakta lain yang searoma– hal ini dapat memicu efek limpahan yang sangat kuat. Misalnya, “saya tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga saya karena penurunan ekonomi” dapat digoreng menjadi “saya begitu bencinya terhadap pekerja asing”.

Secara paradoks, kekuatan ketakutan untuk menggerakkan pemilih melakukan perlawanan terhadap ‘terorisasi’ ini dapat saja dilakukan manakala para kandidat pengompor gagal, yakni ketika masalah yang diangkat tidak memiliki daya untuk memijarkan teror di kalangan warga. Ini justru menjadi alasan bagi pemilih untuk menyerang pihak-piihak yang dianggap telah menerima manfaat dari caruk maruk yang menciptakan ketakutan mereka.

Sederhananya, ketika kandidat dapat menyuntikkan rasa takut dengan mengingatkan pemilih tentang ketakutan yang sedang mereka alami namun membiarkannya hal ini begitu saja, atau membangkitkan ketakutan tanpa meningkatkan harapan, ini justru bukan strategi meraup kemenangan. Kandidat yang sukses adalah kandidat yang mampu memahami ketakutan dan kecemasan pemilih dan berbicara dengan mereka. Kandidat pengompor seharusnya tak membiarkan pemilih terjebak dalam ketakutan dan kegelisahan mereka.

Sebagai kontra-strategi ketakutan, seharusnya Jokowi menegaskan diri mereka berdua sebagai cercah cahaya harapan, sembari mengakui ketakutan warga tentang, katakanlah, “NKRI yang bakal bubar di tahun 2030″ tetapi, yang terpenting, mampu menawarkan langkah selanjutnya dengan menawarkan janji bahwa segala sesuatunya akan beres dan membaik jika mereka berdua menjadi pemenang Pilpres 17 April 2019.

Kenapa ini yang perlu mereka berdua lakukan? Sama halnya dengan ketakutan tanpa harapan yang jarang menjadi strategi pemenangan, ketika mereka berdua gagal mengingatkan pemilih tentang ketakutan mereka, hal ini dapat membuat kandidat yang paling optimis sekalipun jatuh tersungkur pada saat penghitungan suara.

Para pemilih harus diyakinkan bahwa Jokowi-Ma’ruf memahami ketakutan dan kecemasan pemilih. Mereka tak cukup jualan optimisme. Jika Jokowi-Ma’ruf hanya berderap dengan pidato optimis, pemilih tidak akan merasa bahwa Jokowi-Ma’ruf memahami keadaan mereka. Bahkan Jokow-Ma’ruf harus menegaskan bahwa pemilih berhak merasa takut, sembari menegaskan bahwa mereka berdualah dewa penyelamat yang lebih punya rekam jejak, bukan sekadar pendaku sebagai Capres hebat dengan berbekalkan program-program simsalabim.

Jokowi-Ma’ruf tak harus mempeyorasikan rival mereka -Prabowo-Sandiaga sebagai “terlalu pesimistik”; sebaliknya harus mendorong pemilih untuk mempertanyakan kapabilitas mereka jika harus menangani ketakutan yang sudah mereka proposalkan dan meminta para pemilih membandingkan, mana yang di antara dua paslon yang lebih dapat diandalkan: Jokowi-Ma’ruf atau Prabowo-Sandiaga?

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Pengamat Psiko-Politik. Penulis buku “Refleksi Metodologi Riset: Panorama Survey” (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001). Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>