Catatan Jacobus E. Lato*

Sebagai kata, “kriminalisasi” kini meng-Indonesia. Sebagai ide, dia mengglobal, tanpa kehilangan maknanya yang khas kita. Khas Indonesia. Akankah semangat kita tetap membuncah menggunakan kata ini, ketika kata “persekusi” pun mencari tempat dan artinya di negeri ini?

Saya kira, ya!

Kedua kata itu lahir dari dua konteks pengalaman yang berbeda seluruh rentang prosesnya;  pendidikan, penerusan nilai dan refleksinya. Dan itu terjadi sejak kanak-kanak hingga dewasa. Ia pun bertali-temali dengan banyak hal. Mungkin dengan kelompok, partai dan kekuasaan; tiga unsur penting yang bermuara pada ide tentang mayoritas dan minoritas.

Proses yang kuat bertali temali dengan psikologi diri dan sosial itu menyebabkan kriminalisasi pertama-tama merepresentasikan identitas dan kelas sosial yang berujung pada kekuasaan dan mungkin paksaan. Cirinya yang kembar menyebabkan kriminalisasi berwajah banyak; akibat penyesatan berbarengan dengan pembenaran; berjalan iring dengan kejujuran sekaligus kelicikan dan kejahatan; berbareng jalan dengan perasaan minder sekaligus arogansi; berbareng jalan dengan kelembutan dan kerendahan hati tetapi juga kekerasan dan standar ganda. Mungkinkah dia bertali-temali dengan agama dan lembaga agama sehingga setan pun dikriminalisasi misalnya di bulan puasa?

Pada tahap ini kriminalisasi mengabur maknanya. Dan kekaburan memungkinkan kita mempermainkannya. Sebuah aturan yang tidak jelas menyebabkan jiwa yang bebas mudah menantangnya tetapi juga memudahkan pembuat kebijakan menjepit lehernya. Kriminalisasi misalnya, dalam benak ulama, menjadi doa konon demi kemuliaan manusia dan Tuhan. Ketika keluar dari mulutnya, dia menjadi imperasi; penggerak mobilisasi massa yang memunculkan demonstrasi dan konflik berkepanjangan.

Persekusi? Dia jauh dari ulama. Dia istilah pinggiran. Bukan identitas. Dia anonimitas; sesuatu yang tak dikenal dan tak bernama. Dia suara yang disampaikan dengan ragu, tanpa harapan.

Harapan dalam sebuah bangsa, hanya terjadi jika dia didambakan mayoritas. Kelompok yang dipersekusi hanya boleh bermimpi. Percayalah, mimpi itu identik dengan ketidaksadaran; dia berakhir ketika kesadaran mendatanginya.

Lalu, di manakah posisi Anda?

Lha, Anda termasuk yang dikriminalisasi atau dipersekusi?

Dan jawaban Anda mungkin saja air mata; syarat makna, kegembiraan dan harapan?

Hanya Anda yang tahu!

Tentang Penulis: * Jacobus E. Lato adalah kontributor untuk Lembaga Kajian Middle East Forum (Philadelphia, AS) serta Lembaga Kajian Gatestone Institute (New York, AS).

 

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>