Kebohongan adalah suatu ciri yang tak terpisahkan dari politisi. Kebohongan ini mereka tunjukkkan dengan banyaknya fakta yang mereka klaim namun tanpa dasar faktual. Dalam konteks paling mutakhir, mereka berusaha mengelola kesan publik tentang ‘kesadaran fakta mereka’ melalui Hak Angket terhadap KPK.

Bagi kalangan politisi, kebohongan adalah instrumen utama untuk mengeksekusi agenda lanjut, apakah agenda yang bersifat kiri –bertujuan meningkatkan paranoia tentang kegagalan sistem peradilan, pemerintahan, perekonomian dan sebagainya– atau bersifat kanan –bertujuan meningkatkan munculnya rasa takut terhadap kekuatan asing–. Agenda-agenda ini mereka promosikan seraya secara selektif menunjukan fakta-fakta bias yang seolah kebenaran.

Beberapa studi psikologi menunjukkan, politisi umumnya berpola kepribadian “dramatis”, yang dicirikan dengan sifat antisosial (tidak mempertimbangkan perasaan orang lain), “borderline” (takut ditinggalkan, ditolak, merasa penting, suka menyakiti), histrionik (menikmati pengungkapan emosi secara berlebihan), dan narsistik (cinta diri sendiri yang berlebihan).

Pola kepribadian dramatis biasanya terkait erat dengan fantasi tentang kesuksesan, kekuatan, kecemerlangan, atau kualitas unggul tak terbatas. Pada titik tertentu, fantasi ini menggeser persepsi tentang kenyataan, sehingga menciptakan rasa kesuksesan dan keberhasilan semu.

Narsisme berkorelasi positif dengan fantasi tentang “kekayaan dan kesuksesan”, sehingga para politisi keranjingan akan perhatian dan kerumunan massa, bertindak sebagai seolah orator hebat untuk mengesankan kepribadian yang kuat. Inilah yang membuat mereka cenderung membesar-besarkan fakta, atau memanfaatkan kepalsuan sebagai alat mencapai tujuan.

Gejala psikologis yang mereka tunjukkan tidak selalu berarti suatu gangguan psikologis. Mereka cenderung memiliki reaksi tak sadar, sehingga mudah keceplosan memberikan respon yang tak sesuai dengan rangsangan yang diterima. Ciri narsistik membuat para politisi begitu keras kepala dalam mempertahankan apa yang mereka percayai dan cara mereka melihat dunia. Salah satu contoh, mereka menghimbau agar semua orang menghormati koruptor.

Dengan gambaran semacam itu, apakah Anda masih layak mempercayai politisi? Saya menduga, jawaban Anda adalah “Tidak!”, kecuali Anda memiliki jawaban yang politis.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

 

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>