Serangan yang dipimpin pasukan Irak telah melenyapkan sebagian besar pejuang yang menguasai kota tempat pemimpin ISIS, Abū Bakr al-Baghdadi, yang memproklamasikan kekhalifahannya pada tahun 2014. Pada bulan Juni 2014, 206 warga sipil tewas dalam pemboman dan serangan lain yang mereaksi operasi ISIS di Irak, Afghanistan, Suriah, Mesir, Iran, Australia, Pakistan, dan Inggris, di mana para pendukung ISIS radikal membunuh delapan orang dalam serangan di dekat London Bridge pada 3 Juni.

Meski Irak secara keseluruhan sebagian besar adalah Syiah, tetapi Mosul sebagian besar adalah Sunni. ISIS mempraktikkan bentuk apokaliptik kepercayaan Sunni di wilayah yang dilanda bencana sosial dan ekonomi. Banyak warga sipil di daerah-daerah di bawah kendali mereka, mau dan tidak mau, berkolaborasi dengan ISIS. Beberapa berbagi rumah mereka dengan para pejuang ISIS. Beberapa bekerja di pabrik ISIS, membangun roket buatan sendiri, memotong dan mengelas baja untuk jeruji penjara dan pelat baja untuk tank. Orang-orang yang kehilangan haknya berjuang mencari nafkah untuk keluarga mereka di zona perang. ISIS mendekati sekelompok wanita Irak yang telah mendorong suami dan putra-putri mereka untuk bergabung dengan ISIS guna mendapatkan tempat tinggal keluarga yang lebih baik.

Dalam bukunya, “Countering Terrorism”, Crenshaw menulis, “Keterlibatan militer Barat telah memperkuat narasi jihadis bahwa Muslim di mana-mana menjadi sasaran. Itu mungkin telah membuat ISIS lebih bertekad untuk menginspirasi daripada melakukan terorisme langsung, sementara tidak ada tindakan militer yang menghalangi organisasi-organisasi jihad dari pengelompokan kembali, regenerasi, dan perluasan”.

Pemboman di bawah pimpinan AS terhadap warga sipil di Fallujah dan Mosul di Irak dan Raqqa di Suriah, dan kekejaman yang sekarang dilakukan oleh pembebas Irak terhadap tersangka ISIS dan keluarga mereka, berisiko menciptakan putaran baru keluhan Sunni. Meski mayoritas Muslim di Irak dan Suriah tidak mendukung ISIS, mereka mereka yang mengutip agama atau ideologi jauh lebih sedikit daripada keluhan sosial, ekonomi dan pemerintahan.

Sebuah penelitian menyimpulkan, di Mosul, 46 persen penduduk percaya bahwa serangan udara koalisi adalah ancaman terbesar bagi keamanan keluarga mereka, sementara 38 persen mengatakan ISIS adalah ancaman terbesar. Bagi mereka, jihadisme telah mempersuasi dengan cara-cara tanpa kekerasan tetapi efektif menghasilkan radikalisasi.

Pembahasan tentang radikalisasi ekstremis cenderung menekankan aspek sosiologis. Catatan psikologis tentang aktivitas ekstremis jarang terjadi, namun dan sering dilupakan ialah bahwa hanya beberapa dari mereka yang memiliki pandangan ideologis, politik, dan agama yang kuat yang kemudian terlibat dalam tindakan kekerasan. Keterbukaan pribadi, perasaan, dan keyakinan dapat memainkan peran yang menentukan dalam menjelaskan mengapa orang menjadi radikal.

Baik analisis konseptual dan studi psikologi empiris telah menunjukkan ada tiga bahan utama dari pola pikir ekstremis militan. Pertama, meskipun ada beberapa bentuk alasan, fitur yang umum adalah pembenaran dalam pikiran orang-orang sendiri tentang hal-hal jahat dan kejam yang cenderung mereka terima, seperti: pernyataan yang menyetujui tindakan kekerasan, seperti “pembunuhan dibenarkan ketika itu adalah tindakan balas dendam” atau “kita harus menanggapi teror dengan teror”.

Kedua, dendam, yang bisa mengambil dua bentuk: referensi langsung ke “barat”, yang ditunjukkan dalam pernyataan seperti “terorisme dalam bentuk penyiksaan yang tidak adil dan eksekusi tanpa pengadilan dilakukan setiap hari oleh banyak negara barat”; dan penyalahan sebagai akibat ulah sendiri bahwa “barat telah terdegradasi karena kurangnya nilai-nilai bermartabat, epidemi AIDS, dan kecanduan alkohol dan obat-obatan ”.

Ketiga, keyakinan yang lebih umum tentang dunia yang keji bahwa “kejahatan telah menjelma kembali dalam kultus pasar dan aturan perusahaan multinasional”. Di sini ada pembenaran dalam pikiran tentang hal-hal jahat dan kejam yang cenderung mereka terima. Dalam beberapa kasus ini menjadi alasan untuk mereferensi kepada Tuhan bahwa “hanya ada satu Tuhan yang benar” untuk membangun kepercayaan turunan tentang kekuatan ilahi bahwa: “pada saat yang kritis, kekuatan ilahi akan masuk untuk membantu orang-orang kita”.

Aspek-aspek pola pikir ekstremis militan ini bersifat generik dan tidak terfokus dan terspesifikasi pada terorisme Islam. Seseorang tidak perlu menjadi seorang teroris jika mereka mendukung secara moderat ketiga unsur dari pola pikir ekstremis militan dan dukungan yang tinggi dari ketiga komponen dapat menyebabkan seseorang bertindak. Artinya, jika sebuah kelompok memiliki peringkat tinggi pada ketiga komponen, kemungkinan bahwa setidaknya beberapa anggota kelompok dapat menjadi calon potensial untuk penyebab radikal.

Betapa pun, tinjauan ini bukanlah ukuran untuk mengidentifikasi kelompok yang rentan terhadap terorisme, karena tidak ada alasan argumentatif untuk menggunakan pola pikir ekstremis militan sebagai bahan tujuan pembuatan profil. Yang harus dilakukan oleh pemerintah melalui kepolisian adalah memantau tingkat dan kekuatan pola pikir ekstremis militan dalam populasi dan terutama di kalangan muda, termasuk remaja dan siswa, termasuk memantau kekuatan dukungan mindset ekstremis militan di berbagai komunitas dalam populasi.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>