Categories
Begini Saja

‘Jokowi Effect’ dan Logika ‘Tidak Benar (Bahwa)’

Jika Anda mengatakan “Saya bohong”, sebenarnya Anda sedang berbohong atau berkata jujur? Jika “saya” diganti dengan “dia” atau “mereka”, dan “bohong” diganti dengan “tidak benar (bahwa)”, marilah kita uji pernyataan para pengamat yang mengatakan, “Tidak benar (bahwa) ada ‘Jokowi Effect’”. Pertanyaannya, dengan mereka mengatakan bahwa “adanya ‘Jokowi Effect’ (JE) tidak benar”, apakah penilaian mereka jujur?

Pewacanaan pernyataan yang mengatakan bahwa “adanya JE tidak benar” mungkin justru telah membenarkan bahwa “JE adalah benar-benar ada”. Sebab, seandainya JE benar-benar tidak ada, maka tidak diperlukan pernyataan tentang ketakbenaran adanya JE yang dijustifikasikan dengan melesetnya target PDIP untuk memperoleh 27% suara. “Penjelasan atas hal yang sudah jelas” ini merupakan argumen repetitif-tautologik untuk menopang tujuan yang dianggap penting, sehingga dirasa sangat penting bagi penutur untuk mengenali kesalahan-kesalahan logika, kesalahan informasi dan rasionalisasi ketika menentukan validitas argumen atau penjelasan tentang adanya JE. Kesesatan logika yang diistilahkan sebagai “ad hoc pseudoexplanations” (AP) ini mungkin mirip penjelasan yang valid, tetapi tidak memiliki dukungan logis atau empiris koheren yang memvalidasi penjelasan yang sah.

Rasionalisasi AP diarahkan untuk mendukung hipotesis yang lebih disukai, khususnya hipotesis yang kurang memiliki dukungan logis dan/atau empiris. Rasionalisasi ini sengaja menggunakan pemilihan dan pengenalan fakta baru secara sewenang-wenang, yang merupakan unsur-unsur pendukung tujuan khusus sehingga dihasilkan sebuah argumen yang dikesankan valid. Sang penutur secara emosional berkomitmen pada kesimpulan yang ditarik.

Oleh karenanya, pernyataan “tidak benar (bahwa)” hampir selalu diikuti seabrek alasan yang dirangkai dalam keranjang penalaran tertentu. Penggunaan penalaran semacam ini memang tidak dirancang untuk mengejar kebenaran, tetapi untuk memenangkan argumen. Jadi, sangat mungkin penalaran itu menafikkan keyakinan dan keputusan yang rasional kalau tidak malahan merusak rasionalitas itu sendiri. Penalaran bahkan dapat menyebabkan akibat buruk, bukan karena sang penutur/penalar atau manusianya yang buruk, tetapi karena sang penutur melakukan usaha sistematis menggunakan argumen sebagai cara membenarkan keyakinan atau tindakannya. Pada nuansa ini penalaran bahwa “adanya JE tidak benar” juga menjelaskan tentang pola kesesatan logika yang disebut “bias konfirmasi”, penalaran termotivasi, atau pembuatan alasan berbasis pilihan.

Menurut Gerd Gigerenzer, penalaran tidak berurusan dengan kebenaran tetapi dengan cara meyakinkan orang lain ketika kepercayaan saja tidak dianggap memadai. Sedang Jonathan Haidt mempersoalkan pola penalaran para psikolog yang begitu baik pada penalaran terhadap beberapa kasus, tapi begitu parah dan penuh bias pada kasus lainnya. Jadi, penalaran memang dimanfaatkan ketika kita tidak setuju dengan atau terhadap sesuatu.

Lantas, apakah penalaran memiliki fungsi untuk membantu mendapatkan kepercayaan dan membuat keputusan yang lebih baik? Juga tidak. Sebaliknya, penalaran adalah sarana untuk berargumentasi, terutama untuk membantu meyakinkan orang lain dan untuk mengevaluasi argumen yang dibuat orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa manusia memiliki bias konfirmasi yang sangat kuat. Ketika kita memiliki ide, dan mulai beralasan tentang hebatnya ide itu, kita akan menemukan sebagian besar argumen untuk menunjukkan kehebatan ide kita. Dari situ, mungkin kita akan datang dengan seabrek alasan mengapa kita benar, kita akan datang dengan pembenaran atas keputusan kita.

Hal pertama yang perlu menjadi pengingat agar kita waspada ialah bahwa bias konfirmasi memungkinkan kita membuat keputusan yang sangat buruk bahkan menghantar kita sampai pada keyakinan yang menggila. Jika tujuan penalaran dimaksudkan untuk membantu kita sampai pada keyakinan yang lebih baik dan membuat keputusan yang lebih baik, maka seharusnya tidak ada bias semacam ini dalam cara kita menalar. Bahkan bias konfirmasi harus benar-benar tidak ada sama sekali. Dengan bias konfirmasi, kita mencoba untuk meyakinkan orang lain, tidak ingin mencari argumen pada sisi lain, dan berusaha menggiring agar orang lain meyakini sesuatu menurut sisi kita. Di sini, saya tidak sedang menyalahkan bias konfirmasi, karena bias konfirmasi tidak cacat penalaran. Ia justru dibangun ke dalam penalaran. Ia dibuat bukan karena alasan yang cacat atau karena dibuat oleh orang-orang bodoh, tetapi merupakan alasan yang mulus dan dibuat oleh orang yang sangat baik pada penalaran untuk sebuah perdebatan.

Hal kedua, sebagian besar orang memiliki masalah dengan bias konfirmasi ketika mereka menggunakannya untuk beralasan, terutama ketika tidak ada yang ada ruang pendapat lain untuk membantah sudut pandang mereka. Dengan demikian mereka tidak dapat sampai pada solusi yang baik, pada keyakinan yang baik, atau pada pembuatan keputusan yang baik karena mereka hanya akan mengkonfirmasi intuisi awal mereka.

Apa langkah korektif yang perlu dilakukan? Ketika orang dapat mendiskusikan ide-ide mereka dengan orang lain yang tidak setuju, maka bias konfirmasi pada masing-masing orang yang sedang saling bertaut gagasan akan saling mengimbangi dan mengisi sehingga dapat berfokus untuk mendapatkan solusi terbaik. Dengan demikian, penalaran akan bekerja lebih baik. Sebaliknya, ketika orang berkutat hanya pada argumennya sendiri, sangat mungkin ia akan pergi ke jalan yang salah.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas Soalsial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *