Categories
Begini Saja

Pembenaran atas “Maju Tak Gentar”

Oleh Edy Suhardono

Benarkah tindakan maju tak gentar selalu dimotivasi oleh dorongan membela yang benar? Mencermati berbagai kejadian terakhir ini yel keramat ini kian terfalsifikasikan.

Awalnya dimulai dari upaya perombakan makna “menghormati” menjadi “menaati”. Sejak dini kita telah dilatih menaati orang tua dan guru sekolah yang pada faktanya menjadi pihak dengan siapa kita menggantangkan harga diri. Keterkondisian ini tak pelak membuat kita mengonversikan penghormatan menjadi penaatan. Di kemudian hari, terhadap apapun perintah atasan atau pemimpin, kita cenderung melakukan ketaatan tanpa berpikir panjang.

Di dunia kerja, jika para pengampu otoritas memerintahkan bawahan melakukan sesuatu yang tidak etis, bawahan pun sulit mengelak dari desakan mematuhi. Otoritas berfungsi sebagai kekuatan rangsang eksternal yang mampu membangun keyakinan para bawahan untuk secara otomatis mematuhi perintah tanpa sedikit pun memanfaatkan peluang oposisi mereka terhadap pelanggaran atas prinsip etik/moral. Meski kemudian menyadari bahwa perintah yang diterima tidak etis, kesadaran ini segera dilibas oleh dorongan mematuhi yang begitu kuat sehingga abai terhadap hasil penilaian sendiri.

Membela Pembenaran

Sikap ambigu menghadapi tuntutan hidup layak membuat kita rentan melakukan pemelintiran moral/etik. Alih-alih menoleransi ketidakpastian karena harus mempertimbangkan penilaian dari berbagai sudut pandang, lebih baik mengimplementasikan pendapat pertama yang muncul menjadi tindakan sembari menutup pertimbangan yang muncul kemudian.

Kesulitan menolerir ambiguitas ini diperparah oleh kondisi kerja yang membuat pengolahan informasi sulit dilakukan. Desakan waktu, kelelahan, atau kebisingan sekeliling menjadi alasan untuk tidak mentolerir ambiguitas dengan berbagai dalih, seperti:  perlunya membuat keputusan penting dengan cepat dan percaya diri, membangun pandangan sendiri sebelum berkonsultasi dengan pendapat lain, atau meng-gol-kan kepentingan yang lebih besar daripada sekadar membahas pendapat-pendapat.

Di dunia kerja, jika para sejawat kita bersikap abai, membenarkan, bahkan membiarkan perilaku yang tak etis, hal ini mendukung untuk berpandangan bahwa kita sudah melakukan sesuatu yang benar atau, jika faktanya melakukan kesalahan, hal itu diperlakukan sebagai bukan masalah. Rekan kerja yang sengaja atau tidak menutupi kian memapankan perbuatan dan, dengan demikian, menjadi diskon atas perilaku yang tidak etis.

Perangkap Pertahanan Diri

Selain ambiguitas, kondisi kerja, pendalihan, dan sikap menutup-nutupi, hal krusial lain ialah kebiasaan menguji kebenaran melalui prosedur pembenaran. Juga kian menguatnya kebiasaan maju tak gentar demi membela runtuhnya konsep diri/sosial/kelompok sehingga kita menempatkan diri ke dalam “perangkap pertahanan diri”, yakni upaya asal-asalan untuk membalikkan semua serangan. Padahal. yang sedang kita lawan melalui berbagai manuver bukanlah sosok real dengan personifikasi tertentu di dunia sosial nyata, tetapi sosok imagologik, yakni rasa bersalah dan rasa malu. Kedua stimulus internal ini kita rasakan sangat menyakitkan karena tanpa pandang bulu mengusik dan mempertanyakan kadar integritas kedirian kita sebagai sang pelaku.

Perangkap pertahanan berupaya membunuh rasa bersalah dan rasa malu melalui rentetan penyangkalan yang gilirannya menghasilkan pengulangan tindak pelanggaran. Salah satu modus pembunuhan rasa bersalah dan rasa malu ini ialah rasionalisasi yang mengusung premis mayor bahwa (1) kebanyakan orang akan melakukan tindakan yang sama jika berhadapan dengan kondisi yang sama, (2) tindakan yang sama terjadi di luar perbuatan yang sedang dipermasalahkan, dan (3) terjadi inkonsistensi pemberlakuan norma terhadap pelaku lain yang berbuat sama. Berbasis tiga rasionalisasi ini, kita sebagai pelaku akhirnya meyakini penipuan diri sendiri sebagai langkah yang paling baik dan benar.

Memerangkap Diri Sendiri

Rentetan pembenaran dimulai ketika kita menyadari bahwa banyak orang yang serakah. Kita mulai menghakimi keserakahan mereka. Tapi, dengan sedikit fakta bahwa di balik keserakahan ternyata ada keberuntungan, kita pun memasuki perangkap yang kita buat sendiri, di mana kita justru berjuang untuk berbuat hal yang kita tidak suka.

Mengapa ini terjadi? Sejak masa bayi, kanak-kanak, dan remaja secara sadar atau tidak kita menyerap pesan yang kita terima dalam tubuh, perasaan, dan perilaku; sementara menolak dan menekan semua yang tidak kita sukai dan gilirannya menjadi bagian imago kita. Imago kian mengerak bersamaan bersamaan dengan pengabaian kecemasan lantaran usaha kita membunuhnya. Sayangnya, imago tidak mati. Ia tetap hidup dalam wujud fantasi dan impuls, selain rasa bersalah dan rasa malu. Imago takkan kunjung terurai menjadi kesadaran jika kita tetap membunuhnya melalui berbagai modus: intoleransi, pendalihan, sikap menutup-nutupi, dan perangkap pertahanan diri. ***

sumber foto: republika.co.id

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas Soalsial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar