Categories
Bagaimana Kalau Begini Saja

Review & Insight Film Na Willa (2026): Tentang Bermain dan Dunia Orang Dewasa Lewat Mata Anak

Beberapa pekan sebelum trailer Na Willa (2026) dirilis, kabarnya sudah lebih dulu saya dengar berseliweran di media sosial. Sejauh yang saya ketahui, film ini merupakan adaptasi dari novel populer Na Willa: Serial Catatan Kemarin karya Reda Gaudiamo. Meskipun saya belum pernah benar-benar menamatkan bukunya, justru dari situ ketertarikan untuk menonton film ini muncul.

Nama Bu Reda sendiri rasanya sudah cukup untuk membangun ekspektasi. Saya pernah membaca Aku, Meps,dan Beps di sebuah kafe baca—tidak selesai memang, karena hanya sempat membaca di tempat—tetapi cukup meninggalkan kesan tentang bagaimana masa kanak-kanak bisa diceritakan dengan hangat, ringan, sekaligus nostalgik.

Mungkin itu pula yang membuat film dengan kemasan masa kanak-kanak seperti Petualangan Sherina, Jumbo, atau karya-karya seperti Toy Story dan Coco terasa membekas. Ceritanya sederhana, tetapi sarat makna.

Dan setelah akhirnya menonton Na Willa, rasanya film ini menyampaikan persis apa yang sejak awal saya antisipasi.

·  ·  ·

Hal yang paling terasa justru bukan pada alur ceritanya, melainkan pada suasana yang dihadirkan. Ada rasa akrab yang sulit dijelaskan—seperti mengingat sesuatu yang lama tak terpikirkan, tetapi begitu muncul langsung terasa akrab.

Beberapa adegan tampak sangat “kecil”, bahkan nyaris tidak penting jika dilihat sekilas: debu yang beterbangan di bawah sinar matahari saat kasur ditepuk, sensasi “nyezz” saat minum soda dingin, warna-warni jajanan pasar yang mencolok beserta rasanya yang membuat rindu, atau rasa unik di tangan saat mengaduk beras dan kacang hijau di pasar.

Namun justru di situlah letaknya. Pengalaman-pengalaman sederhana seperti itu—yang dulu terasa menyenangkan—kini hampir tidak pernah kita sadari lagi. Film ini seperti mengajak kembali pada cara melihat yang lama: cara melihat yang belum dipenuhi tujuan, belum sarat fungsi.

Dalam pendekatan fenomenologi, pengalaman seperti ini memang tidak selalu perlu dijelaskan—cukup dialami (Husserl, 1931). Dan anehnya, pengalaman menonton seperti ini justru terasa relevan dengan kebutuhan saya sebagai orang dewasa saat ini.

Selain menghadirkan kehangatan masa kanak-kanak, perlahan muncul lapisan lain yang lebih kompleks. Dunia orang dewasa mulai masuk—tetapi tetap dilihat dari sudut pandang anak.

Pernikahan yang semestinya membahagiakan justru diawali dengan tangis. Relasi pernikahan jarak jauh karena tuntutan pekerjaan. Pengalaman dirawat inap di rumah sakit sebagai anak kecil. Sekolah yang terasa kaku dan satu arah. Hingga komentar “pedas” dari guru yang entah mengapa menetap lama dalam ingatan.

Semua ditampilkan tanpa penjelasan yang terlalu gamblang. Justru karena itu, terasa lebih dekat dengan pengalaman nyata. Anak-anak mungkin belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi, tetapi mereka merasakannya. Dan sering kali, rasa itulah yang bertahan.

Dalam kerangka perkembangan kognitif, anak membangun makna dari potongan-potongan pengalaman seperti ini, meskipun belum utuh (Piaget, 1952; Vygotsky, 1978).

·  ·  ·

Ada satu tokoh yang terasa tinggal cukup lama setelah film selesai: Dul.

Ia kehilangan kaki, dan akhirnya menggunakan kaki prostetik, akibat kecelakaan saat bermain terlalu dekat dengan rel kereta. Bagi orang dewasa, ini tentu peristiwa yang sangat serius. Namun yang menarik, kehilangan tersebut tidak serta-merta mengubah cara Dul hadir sebagai dirinya.

Ia tetap anak yang sama—ceria, hidup, dan merayakan keseharian melalui lagu “Sikilku Iso Muni”. Dengan kaki prostetik, ia tetap bermain, tetap tertawa, tetap menjadi bagian dari ritme keseharian anak-anak lain.

Penggambaran Dul tidak dibuat berlebihan. Ia tidak diarahkan untuk mengundang iba, juga tidak dibingkai sebagai sosok heroik. Ia hadir begitu saja—wajar, dekat, tanpa beban makna yang dipaksakan. Justru di situlah kekuatannya.

Jika ditarik ke konsep resiliensi, ini mengingatkan bahwa kemampuan bertahan dan beradaptasi tidak selalu hadir dalam bentuk dramatis (Masten, 2001). Sering kali, ia muncul dalam hal-hal sederhana: tetap bermain, tetap terlibat, tetap merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Identitas diri pun tidak sepenuhnya ditentukan oleh keunggulan (superioritas Dul dalam permainan motorik) atau keterbatasan (cedera yang mengharuskannya menggunakan kaki prostetik). Rasa mampu—self-efficacy—kerap lahir bukan dari kondisi ideal, melainkan dari pengalaman bahwa diri ini tetap bisa menjalani hari, dengan cara sendiri.

·  ·  ·

Hal lain yang terasa pelan tetapi konsisten adalah bagaimana film ini memperlihatkan bahwa setiap anak memiliki keunikannya masing-masing.

Na Willa tampak begitu akrab dengan kata—mudah membaca, menikmati menulis, seolah menemukan ruang bermainnya di sana.

Dul hidup dalam gerak—tubuhnya aktif, luwes, dan terampil dalam aktivitas motorik.

Sementara Bud dan Farida hadir dengan kekuatan berbeda—lebih peka secara sosial, mampu menyesuaikan diri, dan tahu bagaimana berada di tengah orang lain.

Tidak ada penjelasan eksplisit tentang itu. Namun justru karena tidak dijelaskan, terasa lebih nyata: bahwa kecerdasan memang tidak hadir dalam satu bentuk tunggal.

Perspektif ini sejalan dengan gagasan Howard Gardner (1983) tentang kecerdasan jamak—bahwa setiap anak membawa kombinasi kecerdasan yang unik.

Dari sini muncul refleksi yang cukup relevan, terutama bagi orangtua: jika setiap anak berbeda, maka pendekatan yang digunakan pun tidak bisa seragam. Anak-anak mungkin tidak selalu perlu diarahkan menjadi “seperti yang seharusnya”, melainkan difasilitasi untuk berkembang mendayagunakan potensi yang sudah ada dalam dirinya.

·  ·  ·

Penggambaran sekolah—atau lebih luas, pendidikan formal—juga terasa mengena.

Film ini menyajikan kontras yang cukup jelas. Na Willa sempat mencoba dua taman kanak-kanak: satu yang direkomendasikan Nyonya Cheng, dan satu lagi—TK Juwita—yang justru ditemukan bersama Mak.

Di satu sisi, ada pengalaman belajar yang kaku: arah yang satu, ruang ekspresi yang sempit, serta penilaian yang datang terlalu cepat—kadang terasa seperti penghakiman bagi anak.

Di sisi lain, TK Juwita menawarkan suasana berbeda: anak-anak duduk melingkar, lebih terlibat, dan guru hadir bukan sebagai pusat, melainkan sebagai pendamping yang membuka ruang.

Bagian ini terasa dekat dengan realitas. Sekolah bisa menjadi tempat yang menumbuhkan rasa ingin tahu, tetapi juga bisa meninggalkan jejak yang tidak selalu menyenangkan.

Pendekatan berpusat pada anak sebenarnya bukan hal baru—sudah lama dibicarakan oleh tokoh seperti Carl Rogers (1969) dan Maria Montessori (1912). Namun dalam praktiknya, menerjemahkan pendekatan tersebut ke dalam keseharian kelas memang tidak selalu mudah. Di sinilah peran pendidik menjadi krusial.

·  ·  ·

Relasi orangtua dan anak juga terasa cukup kompleks. Ada dorongan untuk melindungi—sesuatu yang sangat wajar. Dunia memang tidak selalu ramah bagi anak. Tapi di saat yang sama, ada kesadaran bahwa kalau terlalu dilindungi, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar dari pengalaman.

Di situ muncul tarik-menarik yang mungkin akrab bagi banyak orangtua: kapan perlu turun tangan, kapan sebaiknya memberi ruang.

Tidak ada jawaban yang benar-benar pasti. Lebih seperti proses menyesuaikan terus-menerus.

Dalam kerangka attachment (Bowlby, 1969), anak butuh rasa aman sekaligus ruang untuk eksplorasi. Bukan dilindungi dari segala hal, tapi tahu bahwa selalu ada tempat untuk kembali.

·  ·  ·

Dan mungkin, hal yang paling tertinggal setelah film ini selesai adalah sesuatu yang sederhana: bermain.

Na Willa menikmati proses belajar—bukan karena harus, tapi karena ingin tahu. Karena menyenangkan. Karena selalu ada hal baru.

Menonton film ini seperti pengingat—atau mungkin sedikit “teguran halus”—bahwa sebagai orang dewasa, kita sering kali justru menjauh dari cara itu. Kita lebih memilih yang pasti, yang aman, yang bisa diprediksi.

Padahal, sering kali justru di situ kita berhenti belajar.

Belajar kembali terjadi ketika kita bersentuhan dengan hal baru—termasuk saat kita tidak langsung tahu caranya, atau bahkan saat kita salah (Kolb, 1984).

·  ·  ·

Film ini tidak berusaha menjadi besar, apalagi terlihat penting. Namun justru karena itu, ia terasa jujur.

Selesai menonton, tidak ada rasa “wah” yang berisik. Lebih seperti diam sejenak—lalu perlahan banyak nostalgia manis berdatangan.

Film ini sangat layak ditonton, terutama bagi orangtua, pengajar, atau siapa pun yang ingin melihat kembali masa kecil—bukan sebagai kenangan yang dilebih-lebihkan, tetapi sebagai sesuatu yang pernah benar-benar terjadi dan dirayakan.

Apresiasi untuk Ryan Adriandhy, Reda Gaudiamo, dan seluruh tim yang berhasil menghadirkan cerita yang terasa dekat, tanpa perlu dibuat-buat.

Daftar Referensi

Husserl, Edmund. 1931. Ideas: General Introduction to Pure Phenomenology. London: George Allen & Unwin.

Piaget, Jean. 1952. The Origins of Intelligence in Children. New York: International Universities Press.

Vygotsky, Lev. 1978. Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Masten, Ann S.. 2001. Ordinary magic: Resilience processes in development. American Psychologist, 56(3), 227–238.

Gardner, Howard. 1983. Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.

Rogers, Carl. 1969. Freedom to Learn. Columbus, OH: Charles Merrill.

Montessori, Maria. 1912. The Montessori Method. New York: Frederick A. Stokes Company.

Bowlby, John. 1969. Attachment and Loss: Vol. 1. Attachment. New York: Basic Books.

Kolb, David A.. 1984.Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

***

Tentang Penulis: Leo Dewa Hardana, M.Psi. adalah Psikolog, Konsultan, dan Project Coordinator pada IISA Assessment Consultancy & Research Centre. Ia adalah psikolog dengan kekhususan bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Ikuti ia di Kolom Leo Dewa Hardana dan Medium Leo Dewa Hardana.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *