Sejumlah catatan dan tulisan Edy Suhardono mengenai alasan dan hal-hal yang patut dipertimbangkan ketika memberi kepercayaan kepada seseorang untuk memimpin yang dihimpun dari Facebook Soalsial.
Catatan via posting 3 Juli
Siapa pun yang menggembar-gemborkan semangat kesetaraan sementara menindas sesama manusia, mereka hanya sedang mengidealisasikan iri hati. [Edy Suhardono, 2014]
Survei Psikolog: Gaya Prabowo Otoriter
Catatan via posting 1 Juli
Kesimpulan saya adalah, rezim yang menjelang purna bakti ini menderita “peniaphobia” (fear of poverty) dan “investigatorphobia” (fear of investigator [Komisi Pemberantasan Korupsi]) sehingga mereka secara mati-matian berupaya agar tidak melarat dan dipenjara setelah terjadi pergantian rezim. [Edy Suhardono, 2014]
KPK, Segera Sidik Korupsi Migas Hatta Radjasa dan Riza Chalid, Rugikan Negara Rp 36 Triliun/Tahun
Bantah amatan berikut ini: Orang yang ditakdirkan untuk berkuasa sejatinya tidak harus berjuang untuk mendapatkannya, namun orang yang hanya ingin menjadi besar karena kekuasaan, ia hampir selalu akan menjadi jahat dan korup. [Edy Suhardono, 2014]
Rebut Dulu Kekuasan, Baru Ribut!
Jika –dan hanya jika—saya tidak dapat lagi mengandalkan kualitas saya, maka saya akan mengandalkan kuantitas saya. Jangan salahkan saya, karena saya memilikinya dan Anda tidak. [Edy Suhardono, 2014]
Pengamat: Dukungan PD ke Prabowo Perkuat Indikasi Kekuasaan Ingin Adang Jokowi
Catatan via posting 30 Juni
Akhirnya kuputuskan apa yang seharusnya kubuat.
Benar bahwa kau tidak tahu bagaimana mematikan mesinnya,
tetapi aku yakin bahwa kau tahu cara menjalankannya.
[Edy Suhardono, 2014]
SBY Instruksikan Demokrat Dukung Prabowo-Hatta
Catatan via posting 27 Juni
Kebanyakan dari kita sangat yakin bahwa kesalahan fatal sama sekali bukanlah kesalahan jika hal itu dilakukan oleh orang yang dikesankan polos, baik hati, terlebih lagi berparas imut. [Edy Suhardono, 2014]
Nurul Yakin Surat ke Guru Tidak Melanggar Aturan Kampanye
Catatan via posting 25 Juni
Anda punya dua pilihan ekstrim: hidup aman atau otentik. Jika Anda memilih yang pertama, Anda akan bertemu dengan seseorang yang memiliki seratus alasan mengapa sesuatu tidak dapat dilakukan; sebaliknya, jika Anda memilih yang kedua, Anda akan bertemu dengan seseorang yang memastikan bahwa sesuatu bisa dilakukan karena ia telah melakukannya. [Edy Suhardono, 2014]
This Indonesian Nazi Video Is One of the Worst Pieces of Political Campaigning Ever
Catatan via posting 21 Juni
Dengan membenarkan segala cara guna mencapai tujuan, Anda mulai mentolerir segala bentuk kekejaman dan kebiadaban yang akan terjadi pada kehidupan masa depan ke dalam hari ini. Dengan demikian Anda bahkan tidak akan mencapai tujuan Anda. [Edy Suhardono, 2014]
Gerindra: Dengan Cara Apa Pun, Prabowo Harus Menang!
Catatan via posting 20 Juni
Mungkin Anda bisa berkali-kali gagal, tetapi sebenarnya Anda tidak akan pernah mencicipi kegagalan yang paling fatal sampai suatu ketika Anda mulai gemar menyalahkan orang lain. [Edy Suhardono, 2014]
Mahfud MD Tuding Bung Karno Pun Bertanggung Jawab soal Pelanggaran HAM
Catatan via posting 17 Juni
Ketegasan terdiri dari 3 unsur. Pertama, kemampuan mengekspresikan perasaan, kedua, kemampuan mengungkapkan keyakinan dan pemikiran secara terbuka, dan ketiga, kemampuan membela hak-hak pribadi. Dengan ketiga unsur ini, si asertif bukanlah si pemalu. Ia mampu mengekspresikan perasaan dan keyakinannya secara langsung dan melakukannya tanpa agresifitas atau tindakan yang kasar. [Edy Suhardono, 2014]
Survei Indo Barometer: Soal pintar Jokowi 71,4%, Prabowo 28,6%
Baca lebih lanjut catatan-catatan Edy Suhardono lainnya di Facebook Soalsial. Facebook Soalsial.