Categories
Begini Saja

“P” Yang Terpeleset Jadi “S”

Artikel ini diperiksa dan disunting ulang dari artikel Edy Suhardono yang pertama kali dipublikasikan di Facebook Edy Suhardono: “P” YANG TERPELESET JADI “S”, 6 Agustus 2014.

“Saya minta maaf kalau ada pihak yang kurang nyaman atas kata ‘titi(S)an’ Allah. Itu karena saya keseleo lidah, seharusnya saya ingin bilang Pak Prabowo ‘titi(P)an’ Allah di zaman ini yang bisa membawa visi besar Indonesia,” tutur Nurcahaya kepada Tribunnews.com, Rabu (6/8/2014).

Keseleo lidah adalah kesalahan yang melibatkan pengucapan (Versprechen), pendengaran (Verhören), atau penulisan (Verschreiben), atau pembacaan (Verlesen) dari sebuah kata dan yang memerlukan pemaksaan terhadap kosa kata yang dikenal. Kejadian keseleo lidah adalah kejadian keseharian, meski secara struktural psikologik-psikiatrik terkait dengan paraphasias yang banyak ditemukan ketika seseorang dalam kondisi patologis.

Kalau boleh saya meringkas pengertian Freud, keseleo lidah adalah “penindasan niat sadar” yang menghasilkan pengucapan kata sesuai kondisi yang diperlukan oleh pembicara. Kondisi ini menyatu dengan niat asadar sehingga pembicara mengalami otomatisasi lidah dengan akibat ia mengucapkan kata-kata yang mengandung pembalikan arti, maksud, atau ungkapan –hal yang justru bertentangan dengan niat sadar. Sesuai dengan penjelasan ini, boleh jadi kilah Nurcahaya tentang niat mengucapkan “titi(P)an” menjadi “titi(S)an” digerakkan oleh fondness (kegandrungan) atau pemujaan tertentu pada obyek yang dirujuk (Pak Prabowo).

Penjelasan di atas bukan satu-satunya. Tak semua keseleo lidah adalah substitusi kata yang dapat dijelaskan hanya dengan cara Freudian. Psikolog Zenzi M. Griffin menemukan, penyebab keseleo lidah adalah ketertatapan. Maunya, Nurcahaya mengatakan, ” Pak Prabowo ‘titi(P)an’ Allah di zaman ini yang bisa membawa visi besar Indonesia.” Ketika ia mau mengatakan hal itu, ia menatap massa pendukung Prabowo yang sangat masif, pun dengan yel-yel gegap gempita sebagai reaksi atas yel-yel yang ia picukan. Dalam beberapa milidetik ia tergetar merinding melihat fenomena “kebesaran” itu, sehingga ia menyatakan, ” Pak Prabowo ‘titi(S)an’ Allah di zaman ini yang bisa membawa visi besar Indonesia.”

Penjelasan lain atas keseleo lidah melibatkan hubungan antara perasaan kekaguman dan keteramanahan. Ketika akhirnya Nurcahaya mengucapkan, “Pak Prabowo ‘titi(S)an’ Allah di zaman ini yang bisa membawa visi besar Indonesia”, publik terkejut dan mengecamnya sehingga ia harus meminta maaf dengan kilah sebagaimana kutipan saya pada paragraf pertama. Sebenarnya ia mau menjelaskan (ini murni interpretasi saya) bahwa saat itu ia merasa sedang membaca sebuah kisah di masa kanak-kanak tentang kebesaran pemimpin besar yang merupakan “titi(S)an” dewa. Ketidaksadarannya menghubungkan perasaan kekaguman pada tokoh antah-berantah itu sehingga tanpa kendali kesadaran, ia hanya menghasilkan kata “dewa” yang kemudian ia sinkhronisasikan dengan terma keagamaannya, “Allah SWT”.

Mungkin ada jenis kasus lain dari keseleo lidah, tetapi ketiga penjelasan di atas hemat saya sudah memungkinkan kita memperoleh gambaran tentang penyebab umum dari keselo lidah. Biasanya, orang yang sedang berpidato menggunakan frase yang dilandasi “berpikir keras” dalam penalaran kalimat. Jika asumsi “berpikir keras” ini diterapkan dalam kasus keseleo lidah, mulut si pembicara mengucapkan rangkaian kata, sementara kesadarannya sedamg berpikir dan dituntut segera menghasilkan pikiran sadar, sehingga yang dihasilkan adalah pikiran asadar.

Ketidaksadaran biasanya ditunjukkan dengan kata-kata yang sedemikian deras meluncur dan unmindfully (tanpa dipikirkan lebih dahulu). Baru setelah sadar bahwa telah melakukan kesalahan, kesadaran Nurcahaya dirangsang sehingga ia berusaha mengambil alih kontrol dengan memperbaiki kesalahan. Mungkin ini yang dimaksudkan dengan keseleo lidah versi Nurcahaya. Ia benar-benar menunjukkan ketidaksadarannya, dan ini tidak mewakili kesadarannya.

Dari kasus P menjadi T ini kita belajar tentang tiga hal. Pertama, keseleo lidah yang diwakili oleh kesalahan dalam substitusi kata lebih menunjukkan masalah pikiran, perhatian, dan kesadaran daripada masalah perencanaan dalam pidato. Kedua, keseleo lidah sebagai kesalahan dalam berpidato tidak diakibatkan keterburuan pembicara dalam memiilih kata, tetapi diakibatkan oleh faktor perasaan terhadap obyek yang sedang dipidatokan. Dan, terakhir, maksud pembicara untuk mengatakan sesuatu yang ia amati secara obyektif tidak selalu menjamin bahwa ia lantas akan mengatakan sesuatu itu sebagai hal yang benar secara obyektif, tetapi sebaliknya, justru sebagai hal yang diinterpretasikan secara subyektif.

Berita: http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/08/06/nurcahaya-saya-minta-maaf-karena-sebut-prabowo-titisan-allah

Video: http://www.youtube.com/watch?v=DsCS1hMwW_k

 

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *