Categories
Begini Saja

Pola Perubahan [Yang Tak Terduga]

Sejumlah hipotesis yang masuk akal telah dikembangkan untuk menjelaskan perubahan sikap yang tampaknya tidak terduga, seperti keputusan Nasdem untuk meminang Anies, BS yang tiba-tiba menjadi sekutu PS sehingga dipecat oleh ketua partai, atau kasus ‘PD no PKB yes’, yang di satu sisi menimbulkan demam keprihatinan dan di sisi lain menghasilkan calon presiden berinisial ‘Amin’.

Pertama, perubahan sikap yang tidak terduga bisa jadi merupakan hasil dari pertimbangan politik pragmatis. Pihak-pihak mungkin menyadari bahwa dengan bergabung, mereka akan mendapatkan kekuatan politik yang lebih besar dan dapat mempengaruhi kebijakan politik yang mereka anggap lebih penting.

Kedua, pihak-pihak mungkin menemukan nilai strategis dalam membentuk aliansi yang tidak dapat diprediksi di mata opini publik. Mereka mungkin memiliki tujuan politik yang sama atau melihat peluang untuk mencapainya secara lebih efektif melalui kerja sama. Aliansi semacam itu dianggap menguntungkan secara politis dan menawarkan kesempatan untuk meningkatkan dukungan dan mendapatkan persetujuan yang lebih besar.

Ketiga, pihak-pihak yang terlibat mungkin menyadari pentingnya bekerja sama untuk mengabaikan masa lalu dan mengejar kepentingan yang lebih besar melalui proses rekonsiliasi politik. Mereka mungkin telah membangun saling pengertian dan kepercayaan melalui dialog, negosiasi, dan bahkan penyelesaian beberapa “dilema narapidana”.

Keempat, para pihak mungkin telah mengalami perubahan tertentu, di mana masing-masing mengalami pergeseran yang signifikan dalam perspektif dan pemikiran dari waktu ke waktu. Pandangan mereka terhadap isu-isu yang sebelumnya memecah belah mereka mungkin telah berubah atau mereka mungkin telah menemukan kesamaan dalam visi politik mereka.

Kelima, faktor eksternal, seperti tekanan politik eksternal atau, sebaliknya, dorongan dan dukungan dari partai internal dan kelompok pendukung, atau perubahan dinamika politik yang lebih luas, mungkin telah mempengaruhi perubahan sikap. Mungkin ada dorongan untuk menyatukan kekuatan koalisi tertentu untuk menghadapi atau menghindari tantangan politik yang sedang berlangsung.

Sekali lagi, kelima hipotesis ini mungkin hanya ‘agak masuk akal’ dan satu, dua, tiga, atau semuanya mungkin telah pembaca pikirkan dan pertimbangkan.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Pengamat Psiko-Politik. Penulis buku “Refleksi Metodologi Riset: Panorama Survey” (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001). Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *