Categories
Kenapa Ya Kenapa Tidak

Positif-Negatifnya “Berpikir Positif”

“Nabi” dalam ilmu psikologi terkait “berpikir positif”, Martin Seligman, membingkai berpikir positif sebagai sebuah gaya menjelaskan, yakni bagaimana kita menjelaskan mengapa sebuah peristiwa terjadi. Mereka yang punya gaya penjelasan optimistik cenderung berserah-percaya bahwa hal baik terjadi, tetapi biasanya menyalahkan hal-hal ekstrinsik sebagai penyebab hasil yang buruk. Mereka juga cenderung melihat peristiwa negatif sebagai hal sementara dan atipikal.

Di sisi lain, individu dengan gaya penjelasan pesimis mudah menyalahkan diri sendiri ketika hal buruk terjadi, tetapi gagal berserah-percaya bahwa hasil yang baik akan terjadi. Mereka juga memiliki kecenderungan memaknai peristiwa negatif sebagai hal yang diharapkan dan bersifat abadi.

Baik menyalahkan diri sendiri karena ada hal yang di luar kendali, maupun melihat peristiwa naas sebagai bagian nestapa dari hidup dapat mengundang dampak yang merugikan pikiran kita.

Yang perlu dikritisi, berpikir positif, bersikap optimis, bisa menjadi jebakan yang sangat berbahaya bagi orang-orang yang secara obyektif cacat, dinonaktifkan karena disfungsi, atau memang suka berkilah dan tidak pernah melihat kegagalan sebagai hal obyektif.

Ketika hal obyektif itu terjadi, kita perlu sangat  realistis, dan tidak optimis. Jika tidak, di dalam bungkus “berpikir positif”

rencana tak pernah menjadi tindakan, ide-ide bagus menjadi usang, hal-hal yang belum selesai akan meningkatkan kecemasan dan emosi negatif karena kegagalan mengalahkan diri terkait semua hal yang tidak kita lakukan; sehingga menjadi realistis tentang hal-hal dari awal mungkin lebih menghemat kita untuk tidak terbenam ke tumpukan kerumitan.

Nyambung ke “Antara Sikap Hipokrit Dan Berpikir Positif”

Balik ke “Jurus Berpikir Positif Pada Kekacauan Penyelenggaraan UN”

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *