Categories
Bagaimana Kalau Begini Saja

Refleksi Dunia Pendidikan dari Serial Teach You a Lesson

Beberapa pekan lalu, istri saya mengajak menonton sebuah serial Korea di Netflix berjudul Teach You a Lesson. Awalnya saya mengira ini hanya drama sekolah seperti kebanyakan serial Korea lainnya—tentang persahabatan, percintaan remaja, atau persaingan akademik. Namun, setelah beberapa episode, saya menyadari bahwa serial ini menawarkan sesuatu yang jauh lebih dalam, yakni tentang pendidikan, bukan hanya sebagai aktivitas di ruang kelas, melainkan sebagai sebuah ekosistem yang melibatkan guru, siswa, orangtua, pemerintah, hingga masyarakat.

Kebetulan, dunia pekerjaan saya sebagai psikolog juga membuat saya cukup sering berinteraksi dengan dunia pendidikan. Selain bekerja sama dengan beberapa lembaga pendidikan, kami juga sering mendampingi orangtua dan anak melalui layanan asesmen maupun konsultasi psikologi. Karena itu, banyak konflik yang muncul dalam serial tersebut terasa begitu akrab. Mungkin agak terlalu dramatis dalam penyajiannya, tetapi akar persoalannya nyata dan tidak jauh berbeda dengan yang kami temui di lapangan.

Serial ini berkisah tentang sebuah lembaga khusus bernama Biro Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP). Ketika sekolah sudah tidak mampu lagi menyelesaikan permasalahan yang terjadi di dalamnya—baik karena tekanan politik, orangtua yang terlalu dominan, maupun kekerasan yang terus berulang—tim dari biro yang didukung oleh Kementerian Pendidikan tersebut turun tangan. Mereka menyelidiki kasus, melindungi guru dan siswa yang menjadi korban, sekaligus memulihkan kembali tatanan yang telah rusak.

Tentu saja pendekatan serial ini dibuat sangat dramatis, komedik, dan segar agar menarik sebagai tontonan. Namun, di balik adegan-adegan penuh aksi tersebut, tersimpan banyak pelajaran yang layak direnungkan, terutama bagi siapa pun yang peduli terhadap masa depan pendidikan.

Pelajaran pertama yang paling terasa adalah bahwa hak siswa dan hak guru harus berjalan beriringan. Dalam beberapa tahun terakhir, kita sering mendengar pentingnya perlindungan terhadap hak-hak anak. Itu tentu merupakan kemajuan. Anak memang harus dilindungi dari kekerasan, diskriminasi, maupun perlakuan yang merendahkan martabatnya.

Namun, perlindungan terhadap siswa tidak boleh membuat guru kehilangan kewibawaan dan rasa aman dalam menjalankan profesinya. Ketika guru takut menegur karena khawatir dilaporkan, ketika setiap tindakan disiplin dianggap sebagai bentuk kekerasan, atau ketika pendapat guru selalu dikalahkan oleh tekanan orangtua, maka pendidikan kehilangan salah satu fondasi utamanya.

Hubungan guru dan siswa bukanlah hubungan antara pihak yang saling berhadapan, melainkan hubungan yang saling membutuhkan. Guru membutuhkan penghormatan agar dapat menjalankan tugasnya secara profesional. Sebaliknya, siswa membutuhkan perlindungan agar dapat bertumbuh secara optimal. Pendidikan akan timpang apabila hanya satu pihak yang terus-menerus dilindungi sementara pihak lainnya kehilangan ruang untuk menjalankan perannya.

Pelajaran kedua berkaitan dengan bullying dan kekerasan di sekolah. Film ini memperlihatkan bahwa pelaku perundungan tidak lahir begitu saja. Mereka dibentuk oleh lingkungan yang membiarkan perilaku tersebut terus terjadi. Ada teman yang memilih diam, guru yang tidak berdaya, sekolah yang takut mengambil tindakan, hingga orang dewasa yang justru belum mampu menjadi teladan yang baik.

Inilah mengapa bullying sesungguhnya bukan sekadar persoalan individu, melainkan persoalan budaya. Selama budaya sekolah masih mentoleransi intimidasi, mengejek dianggap candaan, dan korban diminta “lebih kuat”, maka kasus serupa akan terus berulang.

Dalam praktik dan pekerjaan, saya sering menemukan bahwa luka akibat bullying tidak berhenti ketika seseorang lulus sekolah. Banyak orang dewasa yang masih membawa rasa rendah diri, kecemasan, bahkan trauma yang berakar dari pengalaman masa sekolah. Karena itu, mencegah bullying bukan sekadar menjaga ketertiban sekolah, melainkan investasi jangka panjang terhadap kesehatan mental generasi berikutnya.

Pelajaran berikutnya yang menurut saya paling menyentuh justru datang dari dua episode yang sama-sama menampilkan sosok orangtua. Yang satu memperlihatkan orangtua yang terus menekan guru. Yang lain memperlihatkan orangtua yang tanpa henti menekan anaknya sendiri demi prestasi.

Dua episode ini mungkin menjadi bagian yang paling membuat saya kesal selama menonton serial tersebut. Ironisnya, karakter seperti itu bukanlah tokoh fiksi yang sulit ditemukan. Dalam pekerjaan sehari-hari, saya cukup sering bertemu dengan tipe orangtua seperti ini.

Ada pula yang memosisikan diri sebagai pelanggan yang selalu benar sehingga merasa guru harus selalu mengikuti keinginan mereka. Ada pula yang melihat nilai rapor sebagai ukuran utama keberhasilan anak sehingga setiap angka di bawah harapan diperlakukan sebagai kegagalan.

Padahal, orangtua bukan pelanggan sekolah yang sekadar membeli layanan pendidikan. Orangtua adalah bagian dari sistem pendidikan itu sendiri. Apa yang dilakukan di rumah akan sangat memengaruhi apa yang terjadi di sekolah. Sebaliknya, apa yang dilakukan sekolah tidak akan banyak berarti apabila tidak mendapat dukungan dari rumah. Pendidikan terbaik selalu lahir dari kolaborasi, bukan kompetisi antara guru dan orangtua.

Serial ini juga mengingatkan bahwa sekolah tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan sendirian. Banyak masalah yang tampak sebagai kenakalan siswa ternyata berakar pada persoalan yang jauh lebih luas.

Ada anak yang kecanduan media sosial. Ada yang terlibat kriminalitas remaja. Ada yang tumbuh dalam keluarga penuh konflik. Ada pula sekolah yang menjadi korban kepentingan politik dan tekanan berbagai pihak.

Dalam situasi seperti ini, meminta sekolah menyelesaikan semuanya seorang diri tentu tidak realistis. Pendidikan membutuhkan dukungan pemerintah, konselor, psikolog, aparat penegak hukum, tenaga kesehatan, media, serta tentu saja keluarga. Tidak ada satu profesi pun yang mampu memikul seluruh beban pendidikan sendirian. Sekolah hanyalah salah satu simpul dalam jaringan besar pembentukan karakter manusia.

Pelajaran lain yang menurut saya sangat penting adalah tentang makna disiplin. Belakangan ini, kata disiplin sering dipersepsikan negatif seolah identik dengan hukuman. Padahal disiplin pada hakikatnya adalah bentuk kepedulian.

Seseorang yang membiarkan anak terus berbuat salah tanpa konsekuensi sesungguhnya sedang mengabaikan masa depan anak tersebut. Sebaliknya, memberikan batasan yang jelas justru merupakan bentuk kasih sayang.

Memang, cara yang digunakan BPHP dalam serial ini sering kali terlalu ekstrem untuk dijadikan contoh secara harfiah. Mereka menggunakan metode-metode yang dalam praktik nyata tentu akan melanggar berbagai aturan baik hukum maupun etika profesi.

Namun, jika kita melihat lebih dalam, pesan yang ingin disampaikan bukanlah tentang kekerasan ataupun pembalasan. Pesannya adalah bahwa pendidikan membutuhkan keberanian untuk menegakkan nilai. Ada perilaku yang harus dihentikan. Ada konsekuensi yang harus diberikan. Ada batas yang tidak boleh dilanggar. Tanpa keberanian tersebut, sekolah hanya akan menjadi tempat yang sibuk mengelola konflik tanpa pernah benar-benar menyelesaikannya.

Yang menarik, serial ini juga menghadirkan sebuah angan-angan yang mungkin terdengar utopis: bagaimana jika setiap negara memiliki lembaga yang didirikan oleh Kementerian Pendidikan seperti Biro Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP)? Sebuah institusi yang benar-benar berdiri di tengah, melindungi guru sekaligus siswa, serta memastikan pendidikan berjalan sesuai nilai-nilai yang seharusnya. Apakah lembaga seperti itu realistis? Mungkin belum tentu.

Namun, menurut saya, yang jauh lebih penting bukanlah meniru bentuk organisasinya, melainkan meneladani semangat yang dibawanya. Semangat bahwa pendidikan harus menjadi ruang yang aman bagi semua pihak. Guru tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Siswa tidak boleh menjadi korban kekerasan. Orangtua perlu dilibatkan, tetapi juga perlu diingatkan ketika melampaui batas. Negara harus hadir bukan hanya membuat regulasi, melainkan juga memastikan regulasi itu benar-benar melindungi proses pendidikan.

Dengan demikian, Teach You a Lesson bukan sekadar serial hiburan, tetapi juga mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak pernah sesederhana urusan kurikulum, nilai ujian, atau kelulusan. Pendidikan adalah pertemuan berbagai kepentingan, harapan, karakter, dan nilai yang sering kali saling bertabrakan.

Mungkin itulah alasan mengapa serial ini terasa begitu relevan, bukan hanya bagi masyarakat Korea Selatan, tetapi juga bagi kita di Indonesia. Banyak persoalan yang diangkat terasa begitu dekat dengan realitas yang kita hadapi sehari-hari. Dari bullying, kekerasan dan tawuran, guru yang dilaporkan dan dibawa ke ranah hukum padahal murid yang indisipliner, dan seterusnya.

Karena itu, saya merasa serial ini layak ditonton, bukan hanya oleh guru atau pelajar, tetapi juga oleh orangtua, pengambil kebijakan, psikolog, konselor, bahkan siapa pun yang percaya bahwa masa depan sebuah bangsa pada akhirnya ditentukan oleh kualitas pendidikannya.

Mungkin kita tidak dapat menghadirkan Biro Perlindungan Hak Pendidikan seperti dalam serial tersebut. Namun kita dapat mulai menghadirkan semangat yang sama—di rumah, di sekolah, dan di masyarakat sebab masa depan pendidikan tidak dibentuk oleh satu lembaga, melainkan oleh semua orang yang memilih untuk ikut menjaganya.

***

Tentang Penulis: Leo Dewa Hardana, M.Psi. adalah Psikolog, Konsultan, dan Project Coordinator pada IISA Assessment Consultancy & Research Centre. Ia adalah psikolog dengan kekhususan bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Ikuti ia di Kolom Leo Dewa Hardana dan Medium Leo Dewa Hardana.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *