Categories
Begini Saja

Aktor di Balik Kasus BG dan BW

Artikel ini diperiksa dan disunting ulang dari artikel Edy Suhardono yang pertama kali dipublikasikan di Facebook Edy Suhardono, “Aktor Di Balik kasus BG dan BW, 28 Januari 2015.

Sebelum peristiwa mutakhir negeri ini –utamanya kasus BW, BG, dan bukan kasus KPK versus Polri- sangatlah sulit membayangkan bahwa ternyata ada tindakan yang diambil tanpa pelibatan hati nurani, perasaan bersalah, penyesalan, rasa malu, kepedulian, apalagi pertimbangan moral.

Seolah sang aktor tak tahu menahu tentang konsep tanggung jawab yang berhubungan dengan nuraninya sendiri, rasa bersalahnya, penyesalannya, rasa malunya, kepeduliannya baik terhadap hidup orang lain, maupun pertimbangan moralnya sendiri. Seolah ia melakukan saja apa yang harus dilakukan tanpa pertanyaan sama sekali bak seorang yang teler terkena gendam.

Yang mencengangkan, atas nama hak perorangan dan kemerdekaan dari hati nurani sendiri, sang aktor piawai menyembunyikan diri dari orang lain yang bahkan dianggapnya berbeda dari dirinya sembari mengasumsikan bahwa hati nuraninya bersifat universal dan sahih antar-manusia, sehingga merasa benar jika harus menafikkan fakta bahwa hati nurani tak dapat sedemikian bebas merangsak tanpa pertimbangan rasional.

Sang aktor tak hanya steril dari persentuhan dengan rasa bersalah atau rasa malu, tetapi juga bersikukuh menempatkan diri sebagai yang tidak pernah berhadapan dengan orang lain. Es dalam pembuluh nadinya seolah begitu mendominasinya sehingga ia benar-benar berada di luar pengalaman dan orang lain pun sama sekali tak dapat menebak kondisnya. Sang aktor benar-benar bebas dari hambatan internal dan kendala kebebasan untuk melakukan hal yang ia hasratkan -tanpa nurani- dan ini membuatnya kedap terhadap sorotan mata dunia.

Lantas bagaimana ia menjalani hidup? Apa yang akan ia lakukan dengan segala keuntungan dan rahasia di mana ia mampu menepiskan suara nurani yang diakui dan ditaati oleh kebanyakan orang? Jawabannya sangat tergantung pada untuk apa ia berada di tengah dunia. Sebab, menurutnya, tidak semua orang sama, termasuk dalam kedalaman pertimbangan moral. Mungkin saja ia membaur-campurkan antara hati nurani, mimpi dan ambisi liar, sebab tak jarang di antara para aktor sejenis adalah orang-orang brilian dan berbakat sehingga sepak terjangnya sulit dibendung.

Jika sesungguhnya sang aktor dilahirkan pada saat yang tepat, terutama dengan akses pada kekayaan, dan dengan bakat khusus untuk menggoreng adonan antara kebenciannya dan inventarisasi kekurangan pada orang lain, ia bahkan dapat mengatur cara untuk membunuh sejumlah orang yang semula tidak menaruh curiga apa pun. Dengan uang yang lebih dari cukup, ia dapat mengendalikanya dari jauh sembari duduk berleha di cafe-cafe dengan aman sembari menonton semua kejadian dengan senyum kepuasan.

Mungkin Anda ingin tahu, siapakah sang aktor yang dimaksud dalam catatan ini? Tidak perlu kita main tebak. Sajauh saya rasakan, ia akan secara natural menampakkan dirinya tak lebih dari tiga pekan ke depan setelah Jokowi menulis status Fb-nya, “Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti”.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

 

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *