Categories
Begini Saja

Bawaan “Tak Mengakui Kalah”

Menurut catatan konseling saya, mereka yang menunjukkan kecenderungan “emoh mengaku kalah” adalah pribadi pengidap sindrom kejiwaan serius. Saya menyebut sindrom kejiwaan ini sebagai “Sindrom Sang Perencana”, yakni suatu kondisi psikologik dari mereka yang terobsesi dengan perencanaan di setiap aspek kehidupan mereka. Sebagai mekanisme penyelesaian psikologik, sindrom ini terjadi karena orang berusaha mengatasi pembawaan dasariah yang sebenarnya peragu dan petegang, sehingga mereka berusaha keras memposisikan perencanaan sebagai satu-satunya unsur untuk melakukan pengendalian situasi.

Meski perencanaan adalah jurus ampuh untuk menerabas dan menerobos kehidupan sarat kesibukan sehingga orang lebih mampu memokuskan diri, masalah muncul ketika orang mulai mengatur tenggat waktu secara tidak realistis dan kaku. Justru karena orang mengatur tenggat waktu secara tidak realistis ini –apalagi dengan pameo “kalau bukan sekarang kapan lagi”—mereka kehilangan visi kekinian bahwa apa yang mereka inginkan ketika berumur 53 dulu mungkin sangat berbeda dengan ketika sekarang berumur 63.

Sindrom “Sang Perencana” biasanya dicirikan dengan kecenderungan kuat untuk menolak mengalah ketika terjadinya pembelokan tujuan dan sasaran, sehingga berpotensi untuk menjalankan cara pengaturan diri sedemikian rupa agar sama sekali tak mengalami kegagalan. Pada titik tertentu, mereka sering kehilangan jejak perjalanan terkait seberapa baik kehidupan mereka kini berada. Mereka juga kehilangan spontanitas untuk menikmati hari hari kehidupan dengan mengubah rencana. Padahal kehidupan mengajarkan, tidak ada cara untuk mengontrol setiap aspek kehidupan, dan jika mereka mencoba memasukkan hal ini sebagai opsi, mereka mengonsepkan diri bahwa akan berkemungkinan besar mengalami kehancuran. Mereka tak siap menghadapi perubahan tiba-tiba.

Hal terbaik untuk mengatasi hal ini adalah memerangi kecenderungan tersebut dan keluar dari pencanangan tujuan yang sebenarnya sangat bergantung pada faktor-faktor di luar kendali mereka. Mereka harus rela memindahkan tiang gawang mereka agar mereka dapat menempatkan diri dalam jangkauan tendangan.

Satu hal kecil dan sulit, tetapi harus mereka lakukan, adalah memberikan sesuatu atau melakukan sesuatu untuk orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini mereka akan mulai mengenal rasa bersyukur atas apa yang mereka miliki. Mereka perlu mencari waktu khusus untuk duduk dan menulis daftar hal-hal yang mereka syukuri dan cintai. Dengan demikian mereka tidak menganggap pembelokan rencana sebagai kegagalan, tetapi justru sebagai penemuan arah ke mana hidup mereka seharusnya menuju.

Semoga Anda tak ikut-ikutan terpenjara dalam sindrom psikologik jenis ini. Pun, seandainya Anda merasa sedang mengalaminya, semoga paparan yang saya bagikan ini berguna untuk asupan mawas diri. Setidaknya Anda tidak malahan mengais pembenaran ketika menyaksikan bahwa ada pribadi petarung hebat di negeri ini yang emoh mengakui kalah.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *