Categories
Begini Saja

“Kekalahan” Bukan Lawan Dari “Kemenangan”, Tapi…

Artikel ini diperiksa dan disunting ulang dari artikel Edy Suhardono yang pertama kali dipublikasikan di Facebook Edy Suhardono: “KEKALAHAN” BUKAN LAWAN DARI “KEMENANGAN”, TAPI…., 8 Agustus 2014.

Rasanya baru di Pilpres 2014 kali ini pikiran kita benar-benar diobok-obok dan diporakporandakan, terutama ketika kita harus memaknai “kemenangan” dan “kekalahan” dalam konteks pilpres. Silahkan Anda cermati daftar 24 formula silogistik yang berbeda satu sama lain, sementara kita harus mampu membedakan masing-masing formula agar dapat menangkap apa yang dimaksud:

  1. Setiap kekalahan adalah akibat dari kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  2. Kekalahan menunjukkan bahwa telah terjadi kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  3. Jika ada sesuatu yang akhirnya disebut sebagai kekalahan, berarti ada kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  4. Apa pun yang pada akhirnya berujung pada kekalahan adalah hasil dari kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  5. Jika tak ada kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif, maka tidak akan terjadi kekalahan.
  6. Selain kekalahan, tak ada satu pun alasan untuk mengatakan bahwa telah terjadi kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  7. Sesuatu baru dikaitkan dengan kekalahan jika sesuatu itu berkaitan dengan kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  8. Hanya kecurangan yang terstruktur sistematik dan masiflah yang mengakibatkan kekalahan.
  9. Tidak ada kekalahan kecuali ada kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  10. Tidak ada kekalahan yang bukan karena kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  11. Semua kemenangan disebabkan oleh kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  12. Semua kemenangan bukanlah merupakan kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  13. Tidak ada kemenangan yang bukan karena kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  14. Tidak ada kemenangan tanpa kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  15. Tidak ada kemenangan kecuali itu bukan merupakan kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  16. Hanya kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif yang menyebabkan kekalahan.
  17. Hanya kemenangan yang merupakan hasil kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  18. Jika ada yang menang itu adalah bukan karena tidak adanya kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  19. Jika ada, kemenangan adalah hasil dari kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  20. Beberapa hal yang memungkinkan terjadinya kemenangan adalah hasil dari kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  21. Ada kemenangan yang digolongkan sebagai hasil dari kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  22. Ada kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  23. Sesuatu yang tampak seperti kemenangan adalah kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.
  24. Setidaknya satu kemenangan saja sudah menjadi bukti adanya hasil dari kecurangan yang terstruktur sistematik dan masif.

Melihat kian banyaknya formula baru tentang “kemenangan” dan/atau “kekalahan” yang membanjiri rumah nalar kita akhir-akhir ini, sulit dihindari terjadinya “frustrasi nalar” yang bakal berbuntut agresi nalar, agresi tindakan, kerusuhan sosial, bahkan status pemerintahan yang demisioner.

“Frustrasi nalar” adalah kondisi terhambatnya laju tanggapan terhadap tujuan penalaran, sementara agresi nalar merupakan perwujudan substitutif (pengganti) atas munculnya  hambatan dalam menanggapi tujuan. Agresi nalar merupakan respon terhadap frustrasi nalar.

Jika frustrasi nalar ini berlangsung berkepanjangan, tak pelak ia tidak hanya akan mewujud dalam agresi verbal sebagaimana yang kian meruyak di media sosial, tetapi lambat laun akan mewujud ke dalam agresi perilaku.

Jika frustrasi perilaku ini juga berlangsung berkepanjangan, apalagi terorganisasi secara “terstruktur sistematik dan masif”, tak pelak ia akan mewujud menjadi kerusahan sosial sebagaimana mulai tampak pada wacana seperti ‘penculikan komisioner KPU’, ‘pembakaran gedung MK’, atau bahkan ‘pembakaran istana negara’.

Dan jika kerusuhan sosial ini berlangsung secara ‘terstruktur sistematik dan masif’, militer akan bertindak, dan era SBY akan diperpanjang hingga 2019. Cermati, gelagat ini makin tampak dari dua indikator:

  1. Peran king maker yang kian menguat dari pihak SBY dan istana terkait siapa di antara kedua kubu 1 maupun 2 yang akan menjadi pemenang pilpres,
  2. Sikap SBY dan istana yang sama sekali non-decision-making terhadap hasil pilpres sebagaimana diputuskan KPU,
  3. Instrumentalisasi wacana bahwa keputusan akhir di tangan MK yang berbarengan dengan sikap permisif terhadap wacana ‘pansus pilpres’. 
  4. Terjadinya permainan kerdip mata (eyes flicker game) antara beberapa kibu pemikiran melalui wacana ‘rumah transisi’ dan ‘tindakan makar’.

Anda punya bacaan situasi lain? Silahkan dibagi. Mari kita diskusikan agar tidak kaget jika kelak kejadian.

Salam.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *