Categories
Begini Saja

Merdeka di Gang Sempit

Setiap Agustus, kita kembali memasang bendera merah putih di depan rumah. Umbul-umbul berdiri di sudut jalan. Anak-anak berlatih lomba, pengeras suara memutar lagu perjuangan, dan media sosial dipenuhi ucapan tentang kemerdekaan. Namun di sela perayaan itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: sejauh mana kemerdekaan benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari, terutama di ruang paling dekat yang kita sebut lingkungan tempat tinggal?

Barangkali pertanyaan itu terdengar terlalu besar untuk urusan yang tampak kecil. Tetapi justru di depan rumah, makna kemerdekaan sering diuji dengan cara yang paling konkret. Seseorang tidak bebas mengeluarkan mobilnya karena badan jalan dipenuhi kendaraan. Orang lain tidak bebas menghirup udara bersih karena sampah dibakar hampir setiap sore. Jalan kampung yang diperlebar melalui gotong royong perlahan berubah menjadi deretan parkir, lapak dagang, atau tumpukan barang.

Di atas kertas, kita semua merdeka. Dalam praktiknya, kebebasan satu orang kadang berdiri tepat di atas berkurangnya kebebasan orang lain.

Karena itu konflik bertetangga sesungguhnya menarik dibaca menjelang peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Bukan karena konflik tersebut luar biasa besar. Justru karena ukurannya kecil. Ia memperlihatkan bagaimana bangsa yang berhasil mengakhiri penjajahan politik masih terus bernegosiasi dengan bentuk-bentuk penjajahan baru yang lebih halus dan lebih dekat.

Penjajahan itu tidak datang dari bangsa asing. Tidak pula hadir dalam bentuk kekuatan militer. Ia muncul ketika ruang publik perlahan dikuasai kepentingan privat, ketika hak bersama bergeser menjadi hak perseorangan yang dipaksakan, dan ketika toleransi sosial menyusut lebih cepat daripada pertumbuhan kawasan permukiman.

Dalam The Hidden Dimension, Edward T. Hall menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk mempertahankan ruang psikologis di sekelilingnya.¹ Rumah, halaman, dan area yang dekat dengan tempat tinggal bukan hanya ruang fisik. Ia juga menjadi bagian dari identitas dan rasa aman seseorang.

Dari sudut pandang itu, konflik parkir tidak pernah sekadar soal parkir. Perselisihan tentang asap sampah tidak semata-mata perkara kebersihan. Bahkan kucing yang berkeliaran ke halaman tetangga pun sering membawa makna yang lebih besar daripada yang tampak.

Yang sedang dipertahankan sebenarnya adalah perasaan bahwa hidup kita masih memiliki batas yang dihormati orang lain.

Ketika Kebebasan Saling Bertabrakan

Selama ini kemerdekaan hampir selalu dipahami sebagai kebebasan dari sesuatu. Bebas dari penjajahan. Bebas dari penindasan. Bebas dari ketergantungan.

Padahal kehidupan bertetangga mengajarkan sisi kemerdekaan yang lain. Kemerdekaan bukan hanya soal terbebas dari batas, melainkan kemampuan menerima batas agar orang lain juga dapat menikmati kebebasannya.

Di situlah ironi mulai terlihat.

Kita menginginkan jalan yang lancar, tetapi menaruh kendaraan di badan jalan. Kita menginginkan lingkungan bersih, tetapi membakar sampah karena dianggap lebih praktis. Kita mengeluhkan kemacetan, tetapi menoleransi penggunaan ruang publik untuk kepentingan pribadi selama menguntungkan diri sendiri.

Paradoks semacam ini tidak muncul karena masyarakat tidak memahami aturan. Justru sering kali masyarakat sangat memahami aturan tersebut. Yang lebih menarik adalah kenyataan bahwa pelanggaran berlangsung bersamaan dengan kesadaran akan aturan itu sendiri.

Di sinilah muncul sudut pandang yang jarang dibicarakan. Konflik bertetangga mungkin bukan cerminan lemahnya moralitas warga. Bisa jadi ia merupakan gejala dari sesuatu yang lebih struktural: semakin terbatasnya ruang hidup yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan yang terus bertambah.

Data Bank Dunia menunjukkan bahwa sekitar enam dari sepuluh penduduk Indonesia kini tinggal di wilayah perkotaan.² Kota terus tumbuh, jumlah kendaraan bertambah, ruang bersama menyusut, sementara kemampuan membangun ruang komunal baru tidak selalu mengikutinya.

Akibatnya, kehidupan sehari-hari berubah menjadi negosiasi tanpa akhir mengenai siapa yang boleh memakai ruang tertentu dan sampai sejauh mana.

Dalam keadaan seperti itu, jalan kampung berhenti menjadi sekadar jalan. Ia berubah menjadi arena politik berskala mikro.

Mobil menjadi simbol posisi sosial. Gerobak menjadi simbol penghidupan. Pagar menjadi simbol kedaulatan. Sebidang bahu jalan dapat berubah menjadi objek sengketa berkepanjangan karena yang dipertaruhkan bukan lagi fungsi ruang tersebut, melainkan harga diri yang menempel padanya.

Mungkin itulah sebabnya konflik bertetangga sering terasa tidak proporsional dibandingkan penyebabnya. Yang diperdebatkan tampak kecil. Tetapi makna yang ditanggungnya sangat besar.

Dalam banyak kasus, orang tidak marah karena terhalang parkir selama beberapa menit. Mereka marah karena merasa diabaikan. Mereka tidak kesal semata-mata karena asap. Mereka kesal karena merasa kenyamanan hidupnya dianggap tidak penting.

Dengan kata lain, yang terluka sering bukan kepentingan praktis, melainkan martabat sosial.

Kemerdekaan yang Dimulai dari Tetangga

Menjelang ulang tahun republik, kita lazim mengingat para pendiri bangsa yang berjuang merebut kemerdekaan dari kekuasaan kolonial. Namun ada pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri: apa arti kemerdekaan jika dalam kehidupan sehari-hari kita terus menciptakan bentuk-bentuk dominasi baru terhadap sesama warga?

Pertanyaan itu terasa mengganggu karena jawabannya tidak mudah.

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2025 mengenai pembakaran sampah terbuka menunjukkan bahwa praktik tersebut sering muncul bukan semata akibat ketidaktahuan, melainkan karena keterbatasan sistem pengelolaan sampah yang memadai.³ Fakta ini mengingatkan bahwa banyak konflik sosial lahir dari pertemuan antara pilihan pribadi dan keterbatasan struktural.

Orang yang membakar sampah mungkin sedang mengurangi kenyamanan tetangganya. Pada saat yang sama, ia mungkin sedang berusaha menyelesaikan masalah yang tidak berhasil diselesaikan oleh sistem yang lebih besar. Di sinilah perdebatan tentang benar dan salah menjadi jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

Kajian Harry Mika mengenai mediasi konflik lingkungan menunjukkan bahwa perselisihan antartetangga memiliki karakter yang unik karena para pihak tetap harus hidup berdampingan setelah konflik berlangsung.⁴ Mereka masih akan bertemu di tikungan jalan yang sama, menghadiri rapat lingkungan yang sama, dan menyaksikan anak-anak mereka tumbuh di ruang yang sama.

Karena itu kemenangan sepihak sering tidak menyelesaikan apa pun. Sengketa dapat berakhir. Hubungan sosial belum tentu pulih.

Mungkin justru di sinilah makna kemerdekaan menemukan bentuknya yang paling nyata. Bukan ketika seseorang mampu melakukan apa saja yang diinginkannya, melainkan ketika ia dengan sadar membatasi sebagian kebebasannya agar kebebasan orang lain tetap terjaga.

Kemerdekaan ternyata bukan keadaan yang selesai dicapai pada 17 Agustus 1945. Ia adalah pekerjaan yang harus diperbarui setiap hari di jalan kecil, di saluran air, di tempat parkir, di depan pagar rumah, dan dalam percakapan sederhana dengan tetangga.

Sebab sebuah bangsa tidak hanya diukur dari keberhasilannya mengusir penjajah. Sebuah bangsa juga diukur dari kemampuannya merawat ruang hidup bersama tanpa saling menjajah satu sama lain.

Ketika bendera merah putih kembali berkibar Agustus ini, mungkin itulah renungan yang paling layak dibawa pulang. Bahwa kemerdekaan tidak selalu diuji di medan perang atau di panggung politik nasional. Kadang-kadang ia diuji di gang sempit yang kita lewati setiap hari. Dan dari situlah, diam-diam, kualitas sebuah republik tercermin dengan paling jujur.

Catatan Akhir

1. Edward T. Hall, 1966, The Hidden Dimension (Garden City, NY: Doubleday, 1966). Diakses 4 Agustus 2026. Tautan: https://books.google.com/books?id=TchK2tDnpkAC. Kita sering mengira konflik lahir karena manusia terlalu berbeda. Hall menunjukkan bahwa konflik justru sering muncul karena manusia terlalu dekat tanpa kesepakatan tentang batas-batas kedekatan itu.

2. World Bank, 2025, “Urban Population (% of Total Population), Indonesia”, DataBank. Diakses 4 Agustus 2026. Tautan: https://data.worldbank.org/indicator/SP.URB.TOTL.IN.ZS?locations=ID. Urbanisasi mempertemukan lebih banyak orang dalam ruang yang semakin terbatas. Kedekatan fisik ternyata tidak otomatis menghasilkan kedekatan sosial.

3. World Health Organization, 2025, Open Waste Burning: Sectoral Solutions for Air Pollution and Health. Geneva: WHO, 2025. Diakses 4 Agustus 2026. Tautan: https://www.who.int/publications/i/item/B09367. Banyak perilaku yang tampak egoistis sering berakar pada keterbatasan pilihan. Karena itu konflik sosial kerap memantulkan masalah sistemik yang lebih besar.

4. Harry Mika, 1987, “Mediating Neighborhood Conflict: Conceptual and Strategic Considerations”, Negotiation Journal 3, no. 4 (1987). Diakses 4 Agustus 2026. Tautan: https://restorativejustice.org/rj-archive/mediating-neighborhood-conflict-conceptual-and-strategic-considerations/. Tetangga adalah relasi yang sulit diputus. Karena itu perdamaian yang berkelanjutan hampir selalu lebih berharga daripada kemenangan sesaat.

***

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Pengamat Psiko-Politik. Buku terbarunya berjudul “Teori Peran, Konsep, Derivasi dan Implikasi di Era Transformasi Sosio- Digital” (Sidoarjo: Zifatama Jawara, 2025) dan buku yang ia tulis bersama Audifax berjudul “Membaca Identitas: Multirealitas dan Reinterpretasi Identitas” (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2023). Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *