Most executives and consultants who talk about transformation have not undergone a personal transformation themselves; most have never actually engaged in an organizational transformation, even though they talk about it while attempting to make changes. But those few executives and consultants who have personally been through a process of transformation and have made serious attempts at an organizational level, stand apart from all others; they are recognizable in their manner of speaking, their way of relating to issues, their deep respect for the difficulty involved in the process and their unwavering consistency of intent. Anyone who has been through such a process is not very interested in engaging in anything else.“.

~ Michael McMaster, The Intelligence Advantage

Bagaimana Anda berani menyatakan diri sebagai transformator selagi Anda berdiri di pinggiran dan memisahkan diri dari proses transformasi itu sendiri? Apalagi dengan cara melakukan langkah-langkah mekanistik? Tak seorang pun dapat mengubah lingkungannya kecuali mengubah diri sendiri. Saya yakinkan Anda dari pengamatan, hampir semua orang yang bertindak sebagai atasan menganggap, upaya perubahan dan tansformasi yang mereka buat selama bertahun-tahun gagal total. Ini menjadi alasan mengapa mereka menyebut transformasi adalah langkah idealistik.

Para transformator tulen hampir tak pernah memaknakan tansformasi dalam garis dua kutub: gagal-sukses. Mereka lebih suka akan proses pertumbuhan dan perkembangan. Dari kenyataan ini tersirat, kebanyakan orang suka bersikukuh dengan cara berpikir lama, meski telah berpengalaman mencobakan perubahan meski secara kulit; dan terjebak ke dalam krisis yang menghantar mereka ke transformasi “gagal-berhasil”: kematian!

Para atasan gemar menyatakan geram terhadap bawahan yang mereka anggap “resistant” dan mempersalahkan bawahan karena “kegagalan” untuk berubah. Saya katakan, transformator tulen tidak pernah mencari pembenaran dari apa yang disikapkan anak buah. Mereka paham, resistensi adalah umpan-balik, dan ini mereka dengar. Bawahan justru menampakkan sosok integritas dan identitas asli mereka melalui perlawanan terhadap perubahan yang lemah secara konsepsional, secara perencanaan, pengkomunikasian dan kepemimpinan.

Kebanyakan atasan berusaha secara mekanistik membuat “fix” organisasi yang mereka kangkangi. Padahal, mechanical fixes tak sejalan dengan sistem sosial yang hidup. Sayang hal ini tak banyak disadari. Mereka sia-siakan uang, waktu dan tenaga, sebab para bawahan akan terluka dengan perlakuan ini. Menganggap sistem sosial sebagai mesin akan menghantar ke akhir yang unsustainable—bertentangan dengan tujuan organisasi.

Lantas apa kaitan antara kepincangan-kepincangan di atas dengan kegagalan melakukan transformasi pribadi? Jawabnya, transformasi pribadi pun tak kalah sulit dibandingkan dengan transformasi organisasi kalau tidak malahan merupakan kondisi yang tak boleh tidak.

Barangkali, melakukan ini sama sulit dengan keadaan ketika manusia sedang berkehendak dalam hidupnya—entah sebagai pribadi, pemimpin, atau anak buah. Saya berani mengatakan, pekerjaan terberat adalah mengubah diri pribadi. Ini sebuah perjalanan panjang tiada ujung.

Perkembangan pribadi mempersyaratkan keberanian seorang pionir, kejujuran seorang bayi, imajinasi seorang artis, dan keyakinan seorang yang naif. Saya yakinkan Anda, di dunia ini ada banyak orang pandai, ada banyak orang gendheng, ada banyak orang nekad. Tetapi, yang sangat-sangat sedikit—langka–adalah orang yang pandai, gendheng dan nekad, ketiganya sekaligus, dalam diri satu pribadi. Lantas apa langkah yang mungkin ditempuh?

Langkah Pertama: Evolusi Kesadaran

Yang saya maksud ialah melihat realitas apa adanya dan menerima bahwa cara-cara lama untuk mengendalikan, mendominasi, dan mengalienasikan hanya membawa akibat yang tak dapat diterima bagi kemaslahatan alam, komunitas dan individu. Saya hendak menegaskan, peristiwa metanoia–perubahan dalam dunia inner (jagat alit) seorang pribadi—sangat dipersyaratkan. Ini terjadi saat kita masing-masing sebagai pribadi mulai menerima “panggilan” melakukan perjalanan menerobos—menghadapi cengkeraman sistem yang berusaha mengendalikan roh kita, spirit kita. Kita mempertanggungjawabkan keyakinan, meninggalkan ketergantungan pada model mental yang saya sebut archaic, dan merancang serta menemukan cara mempercayai proses transformasi alamiah.

Langkah Kedua: Bergerak dari Absolut ke Paradoksal

Siapa bilang pertumbuhan pribadi itu mudah dan mengenakkan? Petualang yang naif, curious, innocent, dan pemberani bersedia bergerak dari dunia yang absolut ke dunia paradoks. Hanya dengan ini batas-batas pemikiran tradisional ditembus sehingga sang pencari—the seeker—tumbuh dengan leluasa dalam millleu ambiguitas sampai ia menemukan pemahaman. Penggapai—achiever—yang berbangga diri menyadari, batas-batas kaku antar manusia harus dicairkan.

Langkah Ketiga: Melihat Hal Yang Tak Terlihat dari Masa Depan

Selain keterkejutan (manakala berjumpa dengan pelbagai dimensi realitas akibat kesadaran), hendaknya muncul keterlonjakan seorang visioner tatkala menangkap gambaran masa depan. Beranjak dari sini komitmen tumbuh dan sense of purpose diperkuat. Pribadi yang transformatif bersedia mati melewati banyak peristiwa kematian dan mengejawantah sebagai seorang pribadi yang berubah. Pribadi ini mulai berkenalan dengan apa yang saya sebut “proses menjadi”–the process of becoming. Proses ini berlangsung di dalam penghayatan bahwa ada sesuatu sangat penting, di satu pihak, tetapi juga sangat tidak pasti, di pihak lain. Yang sangat penting tetapi sangat tidak pasti adalah titik-titik rawan, titik-titik kritis. Barangsiapa mampu melewatinya, ia akan paham tentang proses menjadi itu.

Langkah Keempat: Kongkret dan Aksional-Reflektif

Berimbang, paradoks dan dilematis. Pribadi yang efektif menjadi efektif karena mereka mampu memunculkan segurat otot di antara kedua telinga mereka: belajar menyeimbangkan dua hal yang bertentangan, tajam menganalisis dan intuitif.

Melakukan perbaikan secara konstan. Artinya, mampu menempuh kerja menurut cara sendiri, tim, bisnis, dan organisasi tetapi juga bekerja untuk diri sendiri, tim, bisnis dan organisasi. Seorang yang transformasional mampu mengembangkan disiplin dan menemukan bukan saja hal-hal yang baik secara baik, tetapi secara lebih baik.

Periang dan jenaka. Pribadi yang transformasional dapat tertawa lepas, memiliki sense of humour tinggi dan gampang mengajak orang lain hadir dalam suasana kegembiraannya, sedang yang intransformasional cenderung terkentut-kentut dan “masuk angin”.

Temukan the true self Anda. Anda tak dapat membangun tim, bisnis, atau organisasi yang beda dengan Anda. Harus ada kejelasan antara siapa anda sebagai pribadi dan di mana anda sedang membawa lingkungan anda, sebab tak seorang pun dapat memperbaiki linkungannya tanpa perbaikan diri sendiri.

Tidak secepat membalik telapak tangan. Perubahan datang dari built-on programs menuju built-in processes. Banyak orang keburu merasakan hal-hal baru dalam waktu sesingkat-singkatnya. Padahal, apa yang akan berlaku adalah praktik yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Bertindaklah. We act our way into new ways of thinking far more easily than we can think our way into new ways of acting. Yang lebih penting dari yang dipahami banyak orang agar bertindak lebih baik ialah ketika ia masih mampu merefleksikan apa yang sudah dilakukan. Jadi, ia harus melakukan terlebih dahulu.

Kepemimpinan adalah tindakan, bukan posisi. Leadership as action, not a position. Lebih banyak orang yang sebenarnya memimpin, meski ia bukan menjadi atasan. Banyak kopral mampu mengerjakan pekerjaan kolonel dan banyak kolonel hanya mampu menlakukan pekerjaan kopral.

Perhatian. Perhatikan hal yang tak terkatakan, yang tak dimunculkan, atau yang tak hadir, ketimbang yang hadir. Dari apa yang sudah terjadi kita memang belajar banyak, utamanya dari hal yang sudah terjadi dan kita tidak menginginkan hal itu terjadi.

Pribadi transformatif senantiasa menemukan makna baru dan berbagi pembelajaran dengan orang lain. Kehidupannya bersifat partisipatif guna menimba kearifan dari sistem sosial. Ia memanfaatkan keberagaman untuk menemukan sustainability. Lebih banyak waktu terpakai untuk berjumpa dengan ketaksamaan dengan orang lain, karena dari sini transformasi pribadi itu berada pada lahan yang subur. Jadi transformasi bukan akhir perhentian, tetapi sebuah perjalanan proses menjadi.

Tulisan di atas diperiksa dan disunting ulang dari naskah asli. Tulisan aslinya merupakan materi yang disampaikan oleh DR Edy Suhardono di PT Bentoel Prima, 23 Maret 1999.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas Soalsial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>