Categories
Begini Saja

Perpu Pilkada Bak Cupu Manik Astagina

Artikel ini diperiksa dan disunting ulang dari artikel Edy Suhardono yang pertama kali dipublikasikan di Facebook Edy Suhardono, “Perpu Pilkada Bak Cupu Manik Astagina, 7 Desember 2014.

Cupu Manik Astagina dalam kisah berikut adalah sebentuk metafora tentang hak-hak rakyat, hak-hak populi dei, yang mengejawantah dalam Pilkada. Pilkada, di samping memiliki khasiat kesaktian luar biasa bagi insan Nusantara, juga mengandung rahasia kehidupan alam nyata dan alam kasuwargan. Dengan melakukan abuse terhadap Pilkada, orang akan bermimpi tentang swargaloka. Dari tutup discourse-nya, Pilkada memperlihatkan dengan dengan jelas seluruh kehidupan semua makluk jagad raya Nusantara. Khasiat kesaktian Pilkada memungkinkan pemiliknya dapat memenuhi semua apa yang diminta.

Cupu Manik Astagina adalah pusaka kadewatan yang tidak boleh dilihat atau dimiliki manusia lumrah. Cupu Manik Astagina, di samping memiliki khasiat kesaktian yang luar biasa, juga mengandung rahasia kehidupan alam nyata dan alam kasuwargan. Dengan membuka Cupu Manik Astagina, melalui mangkoknya akan terlihat swargaloka yang serba polos, suci, dan penuh kebahagiaan. Dari tutupnya akan terlihat dengan jelas seluruh kehidupan semua makluk jagad raya. Khasiat kesaktian Cupu Manik Astagina memungkinkan pemiliknya dapat memenuhi semua apa yang diminta.

Kisah Cupu Manik Astagina ini mengambil TKP (Tempat Kejadian Perkara) di pertapaan Gunung Sukendra. Menurut kisah Ramayana, Resi Gotama, mahaguru di pertapaan ini, adalah putra Prabu Heriya dari Mahespati. Resi Gotama juga adik dari Prabu Kartawirya yang menurunkan Prabu Arjunasasrabahu. Resi Gotama menikah dengan bidadari kahyangan bernama Dewi Windradi dan dikaruniai tiga orang anak Dewi Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi.

Kisah Cupu Manik Astagina diawali dengan pilih kasih Dewi Windradi kepada puterinya, Dewi Anjani, yang mengakibatkan Dewi Windradi mengabaikan pesan Bhatara Surya, yakni memberikan pusaka kedewataan Cupu Manik Astagina kepada Dewi Anjani. Bhatara Surya, sebelum memberikan  Cupu Manik Astagina itu kepada Dewi Windradi, mewanti-wanti agar pusaka itu tidak sekalipun diperlihatkan, apalagi diserahkan kepada orang lain, walaupun itu putra atau putrinya sendiri. Apabila pesan dilanggar, bakal datang kejadian yang tak diharapkan.

Meski ketika memberikan Cupu Manik Astagina kepada Anjani Dewi Windradi  sudah berpesan agar tidak menunjukkan benda tersebut baik kepada ayahnya, maupun kepada adik-adiknya. Suatu kesalahan dilakukan Dewi Anjani. Suatu hari, ia mencoba kesaktian Cupu Manik Astagina, dan kedua adiknya, Guwarsa dan Guwarsi melihatnya. Terjadilah keributan di antara mereka saling berebut Cupu Manik Astagina. Anjani menangis dan melapor kepada ibunya, sementara Guwarsa dan Guwarsi mengadu pada ayahnya. Saking emosinya, Guwarsa dan Guwarsi menuduh ayahnya, Resi Gotama, telah berbuat tidak adil dengan menganakemaskan Anjani.

Atas itu, Resi Gotama segera ia memerintahkan Jembawan, pembantu setianya, untuk memanggil Dewi Anjani dan Dewi Windradi. Dewi Anjani pun menyerahkan Cupu Manik Astagina kepada ayahnya dan berterus terang bahwa benda itu pemberian ibunya. Sementara itu, Dewi Windradi diam seribu bahasa tidak berani berterus terang tentang dari mana ia mendapatkan benda kadewatan tersebut. Dewi Windradi mengalami situasi dilematis. Jika berterus terang berarti membongkar hubungan gelapnya dengan Bhatara Surya, sedang jika tetap diam sama artinya dengan tidak menghormati suaminya. Sikap membisu Dewi Windradi membuat Resi Gotama marah, hingga mengutuknya menjadi patung batu. Dengan kesaktiannya, dilemparkannya patung itu melayang sembari disertai kutuk bahwa patung itu kelak akan memjelma kembali jadi manusia setelah dihantamkan ke kepala raksasa. Patung itu terlempar begitu jauh dan jatuh di taman Argasoka kerajaan Alengka.

Tak lama kemudian, Resi Gotama pun melemparkan Cupu Manik Astagina ke angkasa dan mengatakan bahwa siapapun yang berhasil menemukan benda itu, dialah pemiliknya. Karena dorongan nafsu, Dewi Anjani, Guwarsi, Guwarsa, dan Jembawan segera mengejar benda kadewatan tersebut. Cupu Manik Astagina terlempar melintasi bukit-bukit dan jatuh terbelah menjadi dua. Cupunya sendiri jatuh di Ayodya dan menjadi Telaga Nirmala, sedang tutupnya jatuh di hutan jadi telaga Sumala.

Anjani, Guwarsi, Guwarsa, dan Jembawan mengira cupu jatuh kedalam telaga dan langsung mendekat dan meloncat masuk. Malapetaka pun terjadi. Guwarsa, Guwarsi, dan Jembawan berubah wujud jadi manusia kera. Melihat kera di hadapannya, Guwarsa pun menyerang kera yang sebenarnya jelmaan Guwarsi karena menganggapnya menghalangi. Pertarungan terjadi di antara mereka tanpa ada yang terkalahkan.

Adapun Jembawan heran melihat dua kera yang bertengkar karena tingkah laku dan ucapan keduanya persis seperti momongannya, Guwarsa dan Guwarsi. Jembawan mendekat dan menyapa keduanya. Mendengar nama masing-masing dipanggil, keduanya berhenti bertengkar dan baru sadar bahwa mereka telah berubah wujud. Mereka meratapi menangisi kejadian yang menimpa. Dewi Anjani yang tidak dapat berenang dan duduk pasrah di tepi telaga pun berubah menjadi kera hanya karena ia mencuci kaki-tangan dan membasuh muka.

Menerima akibat kutukan dahsyat, mereka meratap dan kembali ke pertapaan. Resi Gotama menerima kedatangan putra-putrinya yang kini berwujud kera. Setelah memberi nasehat, Resi Gotama menyuruh ketiganya pergi bertapa sebagai sarana menebus dosa. Guwarsi harus bertapa seperti kelelawar, menggantungkan kakinya di pohon dengan kepala di bawah dan berganti nama jadi Subali. Guwarsa harus bertapa seperti kijang, yaitu berjalan merangkak dan makan dedaunan dan mengubah namanya menjadi Sugriwa. Sedang Dewi Anjani harus bertapa telanjang, merendamkan tubuhnya sebatas leher di telaga Madirda yang airnya mengalir ke sungai Yamuna.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *