Categories
Begini Saja

Video Game: Musuh Pendidikan atau Model Strategi Pengajaran

Posting ini merupakan kumpulan komentar, respon, dan tanya jawab dari posting di Facebook IISA-VISIWASKITA pada tanggal 12 September 2012, tentang pendidikan.

Menurut Judy Willis, seorang neurologist yang kemudian menjadi pendidik, video game seharusnya tidak menjadi musuh pendidikan, melainkan dapat menjadi sebuah model strategi pengajaran. Ketika bermain video game, otak menjadi sangat responsif. Tantangan yang muncul ketika bermain video game bukan hanya stimulasi yang baik untuk memunculkan ketertarikan, tapi dapat membuat seorang anak/siswa mempertahankan motivasi.

Komentar

  • Gabby Thata Sembiring Ini bukan OMDO……ternyata video game itu memang memiliki “nyawa untuk mengendalikan”……lewat permainan itu… otak memang menjadi sangat responsif. Tadinya aku benci video game tapi setelah belakangan ini mencoba ternyata hasilnya bagus banget untuk…. membentuk pemikiran yang “out of the box”.*jadi doyan video game .

12 September 2012 pukul 22:52 · Batal Suka · 2

Sylvia Prasetyo Rahardja Mungkin bisa diperjelas secara data/riset ilmiah, supaya persepsi orang tua tidak salah terhadap pernyataan yg disebutkan ini, mengingat banyak sekali pandangan dari para pendidik/psikolog anak yg menentang stimulasi anak melalui ragam visual electronic: video game, film, tv, dsb. Terima kasih

12 September 2012 pukul 23:00 melalui seluler · Batal Suka · 2

IISA VISIWASKITA: Assessment, Consultancy & Research Centre Mbak Gabby, sebenarnya kita sudah diingatkan oleh Charles Caleb Colton, “We hate some persons because we do not know them; and will not know them because we hate them.”

Kalau Mbak Gabbyganti kata “persons” itu dengan “video games”, logikanya tak berubah.

Pada ketiga posting hari ini, kami sengaja menularkan “virus pemikiran” bahwa prasangka orangtua terhadap game—suatu yang digemari putera-puteri mereka– dapat berakibat fatal. Orangtua tidak hanya berhenti pada membenci video game yang sebenarnya tidak mereka kenal, tetapi bahkan membenci putera-puteri yang mereka klaim sebagai pihak yang mereka cintai. Di sini, yang terjadi adalah konflik psikologik yang sering muncul sebagai tindak kekerasan atau bahkan penyalahgunaan kekuasaan orangtua terhadap putera-puteri mereka.

12 September 2012 pukul 23:11 · Suka · 2

Gabby Thata Sembiring Wah…bener banget….Kadang kegiatan yang disuka oleh anak-anak dilarang orang tua….Padahal yang disukai oleh anak-anak justru menjadi TOOLS mereka untuk belajar sebab akibat dan opened mind untuk tantangan baru. Hanya Pendampingan yang bisa diberikan orang tua. Thanks untuk artikelnya….Sangat Menarik dan Membuat Pemikiran Baru.

12 September 2012 pukul 23:15 · Batal Suka · 2

IISA VISIWASKITA: Assessment, Consultancy & Research Centre Ibu Silvia Sylvia Prasetyo Rahardja, posting kami sebelumnya; juga tanggapan kami terhadap komentar Mbak Gabby Thata Sembiring kami harap menjawab yang Ibu perlukan. Mohon Ibu berkenan melihat juga posting2 kami sebelumnya. Terima kasih.

12 September 2012 pukul 23:16 · Suka · 1

Sylvia Prasetyo Rahardja Kalau menurut saya, sebenarnya orang tua ‘membenci’ video game, karena merasa selain membuang2 waktu anak yg seharusnya buat ‘belajar’, dan yg paling membuat kesal karena anak lupa waktu untuk mengerjakan porsi tugas yg lainnya. Saya setuju pernyataan kalau games termasuk video games adalah salah satu stimulator otak yg tidak kalah efektif dengan tools conventional. Saya setuju dengan pernyataan seharusnya orangtuan berpikiran terbuka terhadap segala bentuk games. Mungkin bisa disarankan untuk mengatasi masalah pertanggungjawaban waktu: Bagaimana cara memberi kebebasan anak bermain video games dengan kesadaran akan batasan waktu tanpa perlu kontrol orang tua secara langsung. Terima kasih

12 September 2012 pukul 23:37 melalui seluler · Suka · 1

IISA VISIWASKITA: Assessment, Consultancy & Research Centre Bu Sylvia Prasetyo Rahardja, makin dilarang, makin kuat untuk melanggar larangan. Gejala ini yang dalam psikologi disebut sebagai “psychological reactance”.

Ringkasnya, kebebasan sebenarnya sudah ada pada anak, justru larangan orangtualah yang mengancam kebebasannya, sehingga anak melakukan “reactance”.

Saran kami, ubahlah arahnya, yakni dari larangan menjadi permintaan agar anak BERMAIN dengan prasyarat bahwa anak MEMBUAT KEPUTUSAN tentang PILIHAN SATU GAME TERBAIK MENURUTNYA untuk ia mainkan dalam menurut kontrak tertentu (durasi, kondisi, kesepakatan cara mengingatkan, konsekuensi hukuman dan sebagainya).

Dengan meminta anak memutuskan, orangtua MENJAGA KEBEBASAN ANAK, dan dengan kebebasan anak membuka diri terhadap opsi BEBAS UNTUK, bukan BEBAS DARI.

13 September 2012 pukul 0:19 · Suka · 2

IISA VISIWASKITA: Assessment, Consultancy & Research Centre Sempatkan Ibu Sylvia Prasetyo Rahardja membaca tulisan naratif Dr. Edy Suhardono berjudul “MENGATASI ANAK PENGGILA GAME DENGAN BERMAIN GAME BERSAMA “ pada posting sebelumnya.

13 September 2012 pukul 0:20 · Suka

Pi Kanyaah Pengalaman pribadi, anak saya sedang merancang permainan game dengan temannya membuat server dan siapa yg ikut main boleh turut menyumbang donasi, hasil keuntungannya di bagi 2, lalu saya duduk disebelahnya krn saya mau tahu apa sih yg dikerjakan sampai kekeh ga mau diajak pergi makan ke resto kesukaannya.

Ternyata game online itu menarik juga ya? Saya tanya kamu main sambil chating?
Dan memang sambil chating seputar pembicaraan permainan, krn dia pakai headphone, sambil ngobrol dgn temannya.  Saya tanya kamu ngobrol dgn siapa, namanya siapa, apakah satu sekolah, berapa teman satu sekolah yg main?

Semua dijawab jelas dan benar, kadang sambil makan malam saya sering ajak ngobrol sambil disisipi kata unt mengingatkan bahwa diantara teman main game online tidak semua seumuran dan dgn latar belakang berbeda dan juga dari negara berbeda, gaya bahasa dan tutur kata tidak sama, ada yg kasar bicaranya, ada yg bicara tentang istilah menjurus ke sex vulgar dan hal lain yg negatif, saya bicara apa adanya kekawatiran orang tua, dan terahir saya katakan manfaatkan masa keemasan saat ini unt karya yg jauh lebih baik dari orangtuamu saat masih muda sepertimu, jangan sia-siakan kesempatan di setiap kesempatan yg kamu punya, krn unt mengulang lagi tidak akan sama hasilnya, kesempatan ke dua jarang lebih baik dari kesempatan pertama, kecuali saat pertama kamu membuat sesuatu hal saat ini dengan baik, kesempatan kedua bisa jauh lebih baik.

Anaknya diam dan saya tahu dia terharu dalam diam, krn setelah kami makan bersama, dia membereskan meja makan, dan saat saya membantu didapur dia memeluk saya tanpa kata-kata, tapi saya sebagai orangtuanya merasakan getaran hatinya.

Saya hanya ucapkan terimakasih pada sang Ilahi atas karuniaNya.

13 September 2012 pukul 7:30 melalui seluler · Batal Suka · 3

IISA VISIWASKITA: Assessment, Consultancy & Research Centre Pi Kanyaahh, tidak hanya penuturan Anda, tetapi lebih-lebih substansi yang Anda tuturkan sangat luar biasa menggetarkan. Yang Anda seperti ini sangat langka dirasakan para orangtua di era kita. Orang2 dewasa yang lagi berperan sebagai orangtua umumnya masih belum menyelesaikan masa kanak-kanak mereka.

Kami tegaskan, berbasis pada riset dan pendalaman di sesi2 konsultansi kami, para orangtua tak perlu gegabah membenci video game yang sebenarnya tidak mereka kenal. Tindakan seperti ini hampir dapat dipastikan berlanjut pada sikap membenci putera-puteri yang mereka klaim sebagai pihak yang mereka cintai itu. Insiden ini tentu bukan sesuatu yang dimaui terkait untuk apa kepada kita dipercayakan anak- sebagai pemberianNya.

Kami garisbawahi lagi posting kami sebelumnya: “If you don’t know, ask your child to teach you how to play it. By that way you’re going to dive into his/her inner world. And if he/she feels that you understand his/her world, there is no difficulty at all, either to prohibit or encourage conduct the affairs of other things besides gaming”.

13 September 2012 pukul 9:17 · Suka · 3

Pi Kanyaah Terimakasih pak Edy, hanya jauh didalam hati saya ada sebuah rasa kawatit dan sesal, bagaimana kelak jika saya sudah tiada, anak-anak saya terlalu anak rumahan walau gaya dan penampilan bisa dikatakan uptudet selalu seperti kebanyakan anak-anak gaul saat ini. Yg saya kawatirkan, anak-anak saya masih naif dan polos untuk seusia mereka dan gaya pergaulan saat ini, saya kawatir mereka di kasari, di bohongi, dihianati oleh kawan atau org lain.

Untuk semua perasaan ini, saya hanya bisa pasrah pada alam semesta kemana akan menuntun anak-anak saya.

Saya jadi tersenyum untuk kelemahan saya ini, berharap yg terbaik untuk anak-anak saya dan juga segenap anak-anak di bumi ini dimanapun mereka hidup, semoga selalu berbahagia dalam kasih dan lindungan Ilahi, amin.

Terimakasih pak Edy.

14 September 2012 pukul 5:10 melalui seluler · Suka

Terima kasih telah membaca. Beri komentar Anda tentang artikel ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *